Bumi kita sedang sakit. Menjelang Ramadhan tahun ini, dunia digemparkan oleh para tentara Allah yang super mikro hingga mata manusiapun tak mampu menyaksikannya. Iya, umat manusia sedang ditegur si Empunya jagat raya dengan kehadiran makhluk kecil ini. Di berbagai negara, pandemi bernama Covid19 ini semakin ganas dan kemampuan manusiapun semakin lemas. Covid ini sudah mampu membuat semua manusia geleng kepala akan kehebatannya.

Namun, dibalik pandemi ini ada beberapa pola tingkah manusia yang menusuk hati akibat dari minim edukasi. Salah siapa? Lalu, siapa yang berperan untuk meng-edukasi masyarakat?

Seperti dilansir di KOMPAS.com bahwa Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo merasa teriris hatinya tatkala mendengar kabar peristiwa penolakan pemakaman jenazah Covid-19. Penolakan tersebut dilakukan oleh sekelompok warga di daerah Sewakul, Ungaran, Kabupaten Semarang pada Kamis (9/4/2020).

Ganjar mengaku terkejut dengan peristiwa tersebut, terlebih saat mengetahui bahwa jenazah yang ditolak pemakamannya itu adalah seorang perawat yang bertugas di RSUP Kariadi Semarang. Dengan sorot mata yang berkaca-kaca, Ganjar pun menyampaikan permintaan maaf.

“Saya mendapatkan laporan yang mengejutkan, peristiwa yang membuat tatu ati (sakit hati). Sekelompok warga Ungaran menolak pemakaman pasien Covid-19. Ini kejadian kesekian kali, dan saya mohon maaf,” kata Ganjar dalam cuplikan video yang diunggah di akun instagram @ganjar_pranowo, Jumat (10/4/2020). (https://semarang.kompas.com/read/2020/04/11/05300071/dengan-mata-berkaca-kaca-ganjar-meminta-maaf-ada-penolakan-jenazah-perawat?page=all#page1 ).

Tak hanya itu, Di tengah pandemi virus Corona atau Covid-19, tenaga medis mulai dari dokter hingga petugas kebersihan rumah sakit, yang menjadi pejuang di garda terdepan dalam menolong masyarakat mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari beberapa oknum masyarakat.

Seperti yang dialami dokter dan perawat di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta Timur. Paramedis tersebut justru mendapat perlakuan tak menyenangkan karena tiba-tiba diusir dari kosan yang disewa.
Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Harif Fadhilah, membenarkan adanya aduan dan keluh kesah dari paramedis tersebut.

“Iya ada. Ya mereka kan sejak Rumah Sakit Persahabatan ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan itu, bukan hanya perawat, ada juga dokter, mahasiswa juga yang di situ, diminta untuk tidak kos di situ lagi,” tutur Harif saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (25/3/2020). (https://m.liputan6.com/news/read/4210702/dokter-dan-perawat-rs-persahabatan-diusir-dari-kos-di-tengah-pandemi-covid-19 ).

Lalu, bagaimana kondisi di Kota Bengkulu?
Beberapa minggu yang lalu, beredar pemberitaan di media sosial tentang beberapa warga menolak keras Mess Pemda dijadikan sebagai tempat karantina pasien terpapar covid19 dengan alasan khawatir warga sekitar akan terpapar virus corona yang dibawa oleh angin.

Seluruh masyarakat kelurahan Malabero menolak keras wilayahnya dijadikan tempat karantina oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu terhadap pasien yang terjangkit Corona Virus (Covid-19). Karena masyarakat tidak ingin lingkungan mereka dijadikan tempat karantina pasien Covid-19.
Gerakan Masyarakat menolak terhadap mess pemda Provinsi Bengkulu dijadikan tempat karantina pasien virus ini disampaikan dengan tulisan spanduk yang menyegel akses pintu masuk.

“Kami seluruh warga kelurahan Malabero menolak keras, wilayah kami dijadikan tempat karantina pasien ODP/PDP yang terjangkit covid-19 dengan alasan apapun,” sampai masyarakat melalui tulisan spanduk pada Kamis (09/04/2020). (http://pedomanbengkulu.com/2020/04/tolak-dijadikan-tempat-karantina-covid-19-warga-segel-mess-pemda/ ).

Mengapa tindakan ini bisa terjadi?

Nah, perlu kita pahami bahwa pengurusan jenazah pasien Covid-19 sudah dilakukan sesuai prosedur penanganan yang aman baik dari segi agama maupun medis. Mulai dari penyucian secara syar’i kemudian dibungkus kantong plastik yang tidak tembus air hingga dimasukkan peti. Seperti yang sudah ditegaskan para ahli kesehatan, ketika jenazah itu dikubur, secara otomatis virusnya akan mati karena inangnya juga mati. Majelis Ulama pun sudah berfatwa bahwa mengurus jenazah itu wajib hukumnya sementara menolak jenazah itu dosa serta penularan virus ini tidak berlaku dengan bantuan angin.

Banyaknya korban Covid19 ini harusnya tak perlu membuat kita berlaku “menolak” jenazahnya ataupun mengucilkan para tenaga medis dengan cara mengusir berikut mengucilkannya.

Karena Rasulullah SAW bersabda ” orang yang mati syahid ada 5 yakni: orang yang mati karena tha’un (wabah); orang yang mati karena sakit perut; orang yang mati karena tenggelam; orang yang mati karena tertimpa reruntuhan; dan orang yang mati syahid dijalan Allah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kondisi seperti ini bisa terjadi dimasyarakat karena kurangnya sosialisasi. Banyak dari mereka tak memahami bagaimana Covid-19 bisa menular. Yang mereka tahu hanya “paramedis adalah kelompok yang paling rentan terpapar corona”. Apalagi dengan melihat prosesi pemakaman yang menurut mereka “aneh”.

Kondisi macam ini tentu melahirkan pemikiran-pemikiran negatif kepada para pejuang garda terdepan. Apabila tak diimbangi dengan penyuluhan yang pas, sosialisasi yang rata, serta penyediaan sarana kesehatan yang tercukupi, akan menimbulkan pemahaman yang tumpang tindih. Hasilnya rakyat berpersepsi dengan spekulasi sendiri.

Tragedi paramedisfobia ini terjadi akibat adanya miskomunikasi yang sampai pada masyarakat. Sebuah kelalaian yang harus dipertanggungjawabkan sebab merugikan paramedis dan masyarakat itu sendiri. Harusnya instansi yang terkait memberikan penyuluhan kepada masyarakat dapat memastikan informasi itu sampai ke setiap telinga. Bukan hanya duduk dan diam tinggal menerima laporan saja. Inilah bukti lalainya pemimpin dalam mengecek apakah info itu benar-benar sampai pada masyarakat ataukah tidak.

Memetik hikmah dari kejadian ini, disini perlu kita pahami bersama bahwa betapa besarnya peran pemimpin untuk mengayomi, mengedukasi rakyatnya agar tidak terjadi simpang siur informasi yang beredar ditengah masyarakat.

Lalu, bagaimana cara islam menyeimbangkan informasi?
Islam melalui pemerintahan khilafah akan berusaha menyelesaikan masalah ini. Khalifah yang akan dibantu oleh Muawin, Wali, Departemen Penyiaran, tokoh umat, serta surtoh ‘aparat keamanan’ akan memberikan penyuluhan, pengaturan, dan pembinaan kepada masyarakat. Agar mereka memahami makna menjaga kesehatan dan cara menghadapi pandemi ini.

Amanah yang diberikan untuk menjelaskan masalah wabah tentu akan dijalankan dengan baik. Mereka akan memeriksa hingga detail, sampai seluruh masyarakat paham dengan masalah ini.

Sedangkan rakyat akan patuh dengan aturan yang telah ditetapkan khalifah. Karena mereka sadar bahwa kebijakan itu untuk kebaikan masyarakat. Sehingga tidak akan ditemui masyarakat yang terkena “paramedisfobia”. Atau bahkan tidak percaya kepada petugas wabah dan kebijakan pemerintah. Walhasil, Islam mewujudkan pemimpin yang dicintai rakyatnya dan rakyat yang dicintai pemimpinnya. “Sebaik-baiknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu cintai dan mereka pun mencintaimu, kamu menghormati mereka dan mereka pun menghormati kamu. Pun sejelek-jeleknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu benci dan mereka pun benci kepada kamu. Kamu melaknat mereka dan mereka pun melaknatmu.” (HR. Muslim).

Sebagai penutup, mari berdoa kepada Allah semoga kita dijauhkan dari segala bala’ dan Allah segera menarik kembali tentaranya (Corona). Aaamiin Yaa Mujiibassaailiin. Wallahualam

Ummu Shiddiq Praktisi Pendidikan Kota Bengkulu