Ilustrasi

Dalam artikel-artikel sebelumnya, saya telah memperkirakan bahwa wabah virus corona telah menjadi pemicu bagi munculnya krisis ekonomi. Prediksi yang serupa juga sudah banyak diungkapkan oleh penulis atau pengamat ekonomi yang lain.

Pada dasarnya saya berpandangan bahwa munculnya virus corona telah menyebabkan terjadinya krisis permintaan dan penawaran secara simultan, yang berdampak pada ekonomi global, yang berakibat pada melemahnya pertumbuhan ekonomi. Fakta telah membuktikan bahwa hampir semua negara di dunia ini tidak siap menghadapi wabah virus corona baik dari segi finansial maupun infrastruktur. Karenanya, kemungkinan yang bakal terjadi adalah memburuknya kekuatan keuangan sebuah negara. Dalam hal ini, baying-bayang HUTANG sudah di depan mata!

Direktur Jenderal ILO (Organisasi Perburuhan Internasional), Guy Ryder (Jenewa, 23 April 2020) menyatakan bahwa “ketika krisis menyebar ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, kita perlu berbuat lebih banyak guna melindungi pekerja dan mendukung perusahaan, karena negara-negara ini kurang siap menghadapi krisis yang berkepanjangan. Jika tidak, kombinasi ekonomi besar dan cakupan perlindungan sosial yang rendah akan menimbulkan bencana bagi masyarakat dan ekonomi.”

Menurut Monitor Tren Investasi UNCTAD (United Nations Conference on Trade and Development) pada bulan Maret lalu menyatakan bahwa proyeksi dampak ekonomi akibat wabah virus corona semakin suram dari hari ke hari. Perkiraan awal adalah bahwa krisis akan dirasakan pada bagian penawaran: penghentian produksi; gangguan rantai pasokan di Asia Timur (Cina) dan penurunan ekonomi global.

Hari ini, faktor kebijakan lockdown atau karantina yang dilakukan hampir di semua negara telah berbuntut pada penutupan atau penghentian produksi, dan kasus ini terjadi secara global (bukan hanya dalam satu negara). Intinya, virus corona telah mengguncang hampir keseluruhan proses produksi, yang artinya juga mengguncang hukum pasar mengenai permintaan dan penawaran.

Beberapa hari lalu, dunia terperanjat ketika melihat kenyataan mengenai anjloknya harga minyak. Sebagaimana dilaporkan oleh banyak media (Senin, 20 April), harga minyak mentah jatuh pada harga paling buruk dalam sepanjang sejarah dunia perminyakan. Khusus terkait dengan permasalahan minyak tersebut sangat berhubungan dengan faktor permintaan, pasokan, dan penyimpanan (beberapa kawan meminta saya untuk menulis sebuah artikel berkaitan dengan “Marxisme dan Minyak”, semoga ke depan saya bisa menulisnya).

Ok, kembali ke krisis. Oleh karena itu, banyak yang memperkirakan bahwa krisis ekonomi “akibat virus corona” akan lebih besar dibandingkan krisis ekonomi yang erjadi pada tahun 2008. Penyebabnya adalah pertama, karena efeknya lebih luas . Kedua, lebih cepat karena guncangan permintaan disertai dengan gangguan paksa dan tertundanya proyek investasi . Ketiga, dengan terpukulnya kegiatan ekonomi (baca: produksi), krisis dapat berkembang pada sektor keuangan ketika banyak perusahaan tidak dapat memenuhi kewajiban keuangan mereka; yang akan berdampak pada cascading (baca: aliran) arus investasi global.

Jadi semuanya akan menunjukkan bahwa dinamika semakin negatif. Menurut UNCTAD, sekitar 80% dari 5.000 perusahaan multinasional terbesar yang dimonitornya telah merevisi penurunan perkiraan pendapatan mereka. Pada awal Maret, revisi pendapatan rata-rata adalah 9%. Tetapi dalam memasuki bulan April, sebagian besar telah melakukan pembaharuan atas revisi sebelumnya. Rata-rata, perusahaan yang beroperasi di negara maju, penurunan yang dialami mencapai rata-rata 35%.

Sedangkan untuk Cina, dalam dua bulan pertama, belanja modalnya mengalami penurunan sebesar 25%. Perusahaan multinasional yang beroperasi di negara tersebut memperkirakan pendapatan turun, rata-rata sebesar 21%. Investasi dalam aset tetap menurun sebesar 24,5%. Tetapi juga, dan karena langkah-langkah penutupan (lockdown) diambil pada pertengahan Januari, dan tidak merata, puncak dampaknya cenderung lebih besar. Menurut ILO, nilai tambah total perusahaan industri Cina turun 13,5% dalam dua bulan pertama (Januari dan Februari) tahun 2020.

Berbicara di Jenewa (Selasa, 23 April 2020), Direktur Jenderal ILO, Guy Ryder melaporkan bahwa pada awal tahun, yakni sebelum munculnya wabah virus corona menyebar ke seluruh dunia, pengangguran global sudah mencapai lebih dari 195 juta orang. Dengan kejutan tambahan dari virus corona, itu “jelas” bahwa dunia kerja menderita “kejatuhan yang benar-benar luar biasa” karena dampak dan langkah-langkah yang ditempuh dalam menangani wabah tersebut. Lalu, berapa jumlah kerugian global yang dialami baik oleh pengusaha maupun buruh? Jujur saja, terkait dengan ini, saya belum ada data. Namun, pada tanggal 10 Maret lalu, pihak ILO memprediksi bahwa kerugian global dalam pendapatan gaji, dihitung antara $ 860 miliar dan $ 3,44 triliun.

Sementara itu, untuk Indonesia, CORE (Centre of Reform on Economics) memperkirakan jumlah pengangguran terbuka bisa meningkat hingga 9,35 juta orang berdasarkan scenario berat yang mereka susun (Kompas, 15 April 2020). CORE menambahkan bahwa jumlah pengangguran terbuka terjadi terutama di Pulau Jawa, yaitu mencapai 3,4 juta orang dengan skenario ringan, 5,06 juta orang dengan skenario sedang dan 6,94 juta orang dengan skenario berat. Dalam hal ini, lapangan usaha yang diasumsikan mengalami dampak paling parah adalah sektor usaha penyediaan akomodasi dan makan minum, transportasi, pergudangan dan perdagangan baik perdagangan besar maupun kecil.

Catatan: Untuk mengetahui gambaran mengenai pengangguran di masa-masa yang akan datang, silahkan melihat kasus pengangguran di Amerika Serikat!

VA Safi’i