PedomanBengkulu.com, Bengkulu — Pengadilan Negeri Bengkulu telah melaksanakan sidang perkara dugaan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dengan terdakwa Ipda Maulana Mantan Kapolsek Batik Nau Bengkulu Utara dengan agenda keterangan saksi dari terdakwa.

Dalam sidang yang digelar, Senin (18/5/2020) pihak terdakwa menghadirkan 14 orang saksi dua diantaranya merupakan saksi ahli untuk meringankan terdakwa dengan memberikan pendapatnya. Namun keterangan yang diberikan para saksi dari terdakwa tersebut justru menguatkan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Kejati Bengkulu, Andi Hendrajaya, SH, MH saat di wawancarai, Selasa (19/5/2020) menerangkan 14 saksi yang dihadirkan untuk meringankan terdakwa dua diantaranya saksi ahli. Dalam sidang dua saksi ahli hanya memberikan pendapatnya. Beda dengan empat orang saksi ahli dari JPU yang memeriksa langsung kondisi dari korban yang merupakan istri terdakwa. Menurut Andi Hendrajaya keterangan saksi terdakwa justru memberatkan pihak terdakwa sendiri sehingga pihak JPU dalam hal ini diuntungkan.

“Dari 14 orang saksi itu mengetahui bahwa ada kejadian tentang KDRT itu berarti mereka sudah tau ada keributan dan itu menguntungkan bagi kita. Sedangkan dari kita ada 4 saksi ahli yang sudah kita hadirkan yang disitu mengungkapkan ada Rotgen ada visum, semua dituangkan di situ. Jadi keterangan saksi terdakwa menguatkan kita,” kata Andi Hendrajaya.

Andi Hendrajaya menyatakan pihaknya sudah siap untuk menghadapi sidang lanjutan dengan agenda penuntutan. Namun sebelum masuk sidang tuntutan akan terlebih dahulu sidang mendengarkan keterangan terdakwa.

“Bagaimana hakim nanti, jika hakim memberikan untuk jeda dan untuk tuntutan kita sudah siap. Pasalnya kita tetalkan Pasal 44 ayat 2 dan Pasal 44 ayat 1 Undang Undang KDRT,” jelas Andi Hendrajaya.

Seperti dilansir sebelumnya, Andi Hendrajaya menyatakan, kasus dugaan KDRT tersebut terjadi pada April 2018 hingga Januari 2019. KDRT tersebut terjadi di asrama Polsek Maje, Kabupaten Kaur dan asrama Polsek Batik Nau, Kabupaten Bengkulu Utara. Selain itu ada juga penganiyaan yang dilakukan di Kota Bengkulu yakni Jalan Pantai Berkas. KDRT yang dilakukan terdakwa dengan melakukan pemukulan terhadap istrinya sehingga mengakibatkan cacat tetap dan trauma psikis korban hingga kini. [Anto]