Ilustrasi

Dalam suatu perkara, manusia sama sekali tidak diwajibkan untuk mengetahui ketentuan yang telah Allah Subhanahu wata’ala gariskan. Manusia hanya diwajibkan berusaha optimal dan maksimal.

Selanjutnya, hasil dari usaha tersebut hanya Allah yang mengetahui segala sesuatu. Dalam Alquran, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

”Sesungguhnya hanya Allah pemilik kunci-kunci alam gaib. Tak ada satu pun makhluk-Nya yang mengetahui.” (QS Al-An’am: 59).

Dalam ayat lain, secara tegas Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan beberapa hal yang hanya Dia yang secara pasti mengetahui.

”Sesungguhnya, pengetahuan akan hari kiamat, turunnya hujan, pengetahuan janin yang ada dalam rahim, pengetahuan akan perbuatan manusia esok harinya, pengetahuan akan waktu berakhirnya bumi, semuanya, hakikatnya hanya Allah SWT yang tahu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Mahawaspada.” (QS Luqman: 24).

Selain itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang manusia untuk mempercayai para dukun peramal nasib. Karena, hakikatnya, mereka itu tidak mengetahui. Mereka hanya mengaku-ngaku tahu.

Pengetahuan para dukun ataupun peramal diperoleh dari bisikan jin dan setan. Dalam hadis riwayat Bukhari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

”Itu sebetulnya berasal dari kabar berita jin yang sudah bercampur dengan ratusan kebohongan. Setelah itu, ia membisiki para dukun peramal nasib.” (HR Bukhari dari Aisyah).

Dalam hadist lain, Rasulullah secara tegas menyampaikan bahwa seseorang yang mendatangi dukun ataupun peramal telah menjadi seorang yang kafir.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Siapa yang mendatangi para dukun peramal nasib, lalu ia membenarkan apa yang mereka katakan, maka ia telah kafir terhadap apa yang turun kepada Muhammad (Alquran).” (HR Ahmad dari Abu Hurairah).

Para peramal nasib memiliki hubungan erat dengan jin. Mereka selalu berusaha memalingkan keyakinan dan akidah keimanan manusia kepada makhluk-makhluk gaib ciptaan Allah Subhanahu wata’ala. Mereka menghembuskan keragu-raguan terhadap diri manusia, yang pada gilirannya menggelincirkan umat manusia ke jalan kesesatan yang nyata. [Suci Kusuma]