Pernahkah kalian merasakan bagaimana sensasi dalam mendapatkan hidayah (kemudahan) ?. Eits, nanti dulu. Bukannya sok alim atau merasa sebagai ahli agama. Tapi, hanya mengingatkan agar kawanmuda terus menjaga sholat wajib 5 waktunya.

Sebelum melanjutkan cerita lebih mendalam, pasti kalian sudah familiar dengan istilah candu atau kecanduaan atas suatu hal. Seperti candu akan rokok, pacaran, menghambur-hamburkan uang dan masih banyak lagi. Bila diteruskan, malah mengganggu fikiran. Hi, hi.

Namun, pernahkan kalian mendengar istilah itu ditujukan pada suatu hal yang tak terlihat ?. Bukan ilmu, melainkan hidayah. Jika seorang candu akan ilmu, mungkin dia bisa mendapatinya melalui buku bahkan al-kitab.

Namun, hidayah. Kemana mencarinya ?. Apakah diantara kalian ada yang tahu ?. Jika belum, mari kita nikmati perjalanan para salik (umat) Islam yang candu akan hidayah Allah.

Mungkin, kalian juga sudah sering mendengar kalimat spiritual. Tapi apakah kalian tahu, bagaimana perjalanannya ?. Perjalanan hati, jiwa dan batin antara umat dan sang penciptanya.

Jika belum, ada baiknya kawan muda untuk mencoba perjalanan ini. Yaitu, dengan mengorbankan waktu di Dunia mengamalkan sunah-sunah Nabi Muhammad SAW.

Waktunya tidak banyak kok kawan muda, hanya 72 jam saja. Itupun, hanya berawal dari sekali dalam seumur hidup. Jadi, hal ini sangat dianjurkan bagi kawanmuda terutama beragama Islam.

Waktu yang dikorbankan itu bukan untuk meninggalkan harta, anak dan istri. Bukan untuk itu, malah sebaliknya. Guna memupuk diri agar dapat memelihara dan menjaga hal tersebut, sesuai ketentuan dan perintah Allah SWT.

Harus diingat, jangan sesekali kawanmuda melakukan perjalanan ini berlandaskan niat duniawi. Karena efeknya malah akan mendatangkan mudharat bahkan azab yang mengerikan.

Namun, lakukanlah perjalanan ini dengan niat kuat hanya karena Allah semata. Insya allah kawanmuda bisa sukses memupuk versi terbaik terhadap diri sendiri.

Kami bukan pembawa aliran sesat. Bukan juga komplotan teroris yang hendak merekrut anggota baru. Anda bisa melakukan penelitian terhadap itu, jika diperlukan.

Dalam kunjungan atau bisa disebut ‘itikaf’ dari masjid ke masjid, kami hanya segerombol manusia yang haus dalam pembelajaran dalam perjalanan menuju Allah. Kami yang menghabiskan waktu di masjid, hanya belajar menghidupkan sunah Rasullullah SAW.

Perlu ditekankan sekali lagi, terutama untuk masyarakat Provinsi Bengkulu. Jangan sebut kami orang yang gila agama dan jangan sesekali menyebut, sebagai teroris.

Sebab, kami hanya manusia yang masih belajar istiqomah dalam ikhtiar menghadapi perjalanan hidup di Dunia. Tapi, kami lebih senang jika kalian menyebut kami sebagai Jamaah Tabliqh masjid Al-Manar yang candu akan hidayah Allah. [Alvi]