Musholla Tak Beratap di tepi Jalan Wisata Pantai Panjang Kelurahan Anggut bawah Kota Bengkulu

Mungkin, tulisan tentang cerita ini bukan yang pertama kali kalian baca. Tapi, kalian tetap perlu dan bisa jadi karena penasaran makanya terus mengikuti ceritanya sampai selesai. Bukan sok tahu, tapi cuma sedikit yakin aja guy’s.

Dibangun ulang pada awal tahun 2014 lalu di tepi Jalan Wisata Pantai Panjang Kelurahan Anggut bawah Kota Bengkulu, musholla berciri khas ini memiliki keunikan tersendiri. Meski terbangun dipertengahan makam tua yang usianya, kurang lebih ratusan tahun. Musholla tak beratap sama sekali tidak menghembuskan aura negatif sedikitpun, bagi masyarakat.

Seperti yang diketahui bersama, biasanya makam yang usiannya sudah melebihi seratus tahun. Selalu melahirkan berbagai cerita misteri. Ya kan, guys ?.

Tapi, musholla ini beda banget. Sekali lagi, pokoknya unik loh guys. Gak percaya ?, simak ceritanya sampai habis ya.

Indah. Sejuk ketika dipandang. Musholla tak beratap memiliki cerita spiritual sebelum berdiri. Berawal dari amanah yang sempat terlupakan hingga didatangi dalam mimpi dan berujung, pertemuan dengan makhluk ghaib.

“Kalau umurnya mungkin kurang lebih sekitar 700-an,” kata Musar (35) yang mendapat amanah membangun ulang musholla tersebut.

Sewaktu masih duduk dibangku kelas 3 Sekolah Dasar (SD), Musar diberi amanah oleh sang ayah untuk mencari musholla. Dahulu, tenar dengan sebutan surau. Lokasinya disekitar tepian pantai, tidak jauh dari tempat mereka berdiam yaitu hanya berjarak sekitar 100 meter dari musholla.

Namun, ia sama sekali tidak menggubris amanah dikarenakan belum mengerti maksud dan tujuannya. Waktu terus berlalu, kehidupan pria bertubuh kekar pun berjalan normal seperti biasa. Namun, setelah memasuki berjalan lebih dari 20 tahun.

Tentu lumayan banyak pengalaman hidup yang telah dilalui Musar, dalam kurun waktu dua dekade itu. Bahkan, perjalanan menghantarkannya hingga ke Medan Sumatra Utara (Sumut) untuk mengadu nasib diperantauan.

“Pas tahun 2010, saya pulang lagi ke Bengkulu,” cetus Musar.

Nah. Disinilah semua hal tentang Musholla Tak Beratap benar-benar dimulai. Setibanya di Bengkulu, kehidupan yang ia hadapi mulai berubah. Kejadian mistik, kerap ia alami.

Mulai dari ditemui seorang berjubah yang mengenakan sorban, dalam mimpi. “Sampai tiga kali saya bermimpi seperti itu,” ungkap Musar.

Tempat tayamum.

Pertemuan antara makhluk dalam mimpi itu, bukan lain untuk mengingatkan Musar tentang amanah dari pahlawan kehidupannya (ayah). Mencari surau ditepi Nala (tepian pantai). Namun, ia masih belum mengerti maksud amanah tersebut.

Akhirnya, mimpi yang secara kajian abnormal terus menghantui fikirannya hingga akhir tahun 2013 itu menemui titik terang. Solusi, didapat ketika pria berkulit gelap benar-benar didatangi seorang yang kerap hadir dalam mimpinya.

Tentu, ia bertemu dikehidupan nyata. Tapi mungkin suatu konsep membuat pertemuan itu berbeda. Maaf, hal itu memang tak bisa diungkap dengan kata-kata. Seperti yang kalian ketahui, itu diluar akal sehat guy’s.

“Mungkin orang akan bilang saya gila, tapi seperti itulah yang terjadi,” kata Musar.

Setelah pertemuan itu, kehidupan Musar kembali berubah. Jalan Allah, menuntunnya menuju lokasi berdirinya musholla itu sekarang. Saat itu, tak ada apapun yang bisa dijadikan petunjuk untuk memulai pembangunan.

Tanpa persiapan modal yang mestinya sudah terencana, pembangunan surau diawal tahun 2014 ia lakukan perlahan. Iyalah guy’s. Musar tidak kerja sendiri, juga dibantu masyarakat sekitar.

Mungkin sudah menjadi kehendak Allah. Satu persatu, Allah datangkan umatnya yang memberi pertolongan materil (dana) untuk pembangunan musholla tersebut. Dan akhirnya, surau berdiri dengan kokoh diantara makam tua.

“Saya tidak punya gambar, tapi hati dan pikiran yang menuntun saya mendirikan musholla ini. Kalau bangunan yang dibelakangnya, memang pemikiran saya pribadi, ” pungkas Musar.

Nah, begitulah cerita sehingga berdirinya Musholla Tak Beratap di tepian jalan Wisata Pantai Panjang, guy’s. Tapi bukan hal itu yang membuat surau ini menjadi unik. Yakni, sumur yang menjadi sumber air-nya.

Menurut logika, wajar jika sumur yang berlokasi dalam lingkup 500 meter dari bibir pantai menghasilkan air yang asin. Namun, logika itu tidak berlaku untuk sumur di musholla ini guy’s.

Sumber airnya bersih, tidak menimbulkan rasa asin sedikitpun. Jelasnya lagi, benar-benar tawar loh guy’s. Padahal lokasi surau hanya berjarak sekitar 100 meter dari bibir pantai.

“Semula dalamnya paling satu setengah atau dua meter. Sekarang sudah 3 meter,” ucap Musar.

Proses pengalian sumur ini juga terbilang unik loh guy’s. Seolah sudah terbentuk, hanya dipenuhi dedaunan yang tertimbun dan terhimpit debu-debu. “Alhamdulillah penggaliannya lancar-lancar saja,” cetus Musar lagi.

Selain itu guy’s, kalian wajib tau jika sumur di musholla itu tidak pernah kering. Meskipun, musim kemarau melanda Provinsi Bengkulu. Siapa tahu nanti, jika sumber air dikediaman kalian mengering. Insya Allah, diperbolehkan kok mengambil air bersih di musholla tersebut.

Ada satu hal unik lagi loh guy’s. Di dalam musholla berwarna putih dan hitam. Serta disempurnakan dengan tulisan ayat dan kalimat Allah di dindingnya, terdapat sebuah lobang yang khusus disediakan untuk bertayamum.

Dan, hal terakhir yang membuat surau ini memiliki daya tarik tersendiri adalah posisi Imam. Biasanya, kita temukan baik di masjid-masjid maupun musholla-musholla lain posisi imam berada di depan dan paling tengah.

Namun tidak dengan musholla ini, posisi imam-nya berada di depan bertempat di sudut paling kiri. “Demi allah, saya membangun surau ini hanya mengikuti kata hati,” tutup Musar.

Demikianlah, cerita tentang Musholla Tak Beratap yang bisa disajikan untuk kalian, kawanmuda. Jika ada kekurangan, secara pribadi saya minta maaf dan kepada Allah saya mohon ampun. [Alfi]