Platypus (Foto: caretoclick.com)

Telah sejak lama, sejumlah penyakit dan bakteri yang resisten atau kebal dengan antibiotik mengancam dan menghilangkan banyak nyawa manusia. Namun harapan baru umat manusia muncul untuk mengatasi masalah tersebut, yakni dengan susu platypus.

Pada tahun 2014, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah membuat laporan yang menyoroti adanya ancaman global berkaitan dengan resistensi antibiotik yang memerlukan tindakan mendesak untuk mengatasi masalah tersebut.

Platypus adalah hewan darat yang dapat tinggal di dalam air. Umumnya platypus dapat ditemui di bagian timur benua Australia. Menariknya, meskipun platypus bertelur, tapi dia menyusui, sehingga digolongkan dalam kelas mamalia.

Susu platypus inilah yang dianggap dapat menjadi penyelamat banyak nyawa manusia dari penyakit dan bakteri yang selama ini kebal terhadap antibiotik.

Tim peneliti dari lembaga riset nasional Australia, the Commonwealth Scientific and Industrial Research Oganisation (CSIRO), dan Deakin University telah berhasil memecahkan teka teki dibalik keampuhan susu platypus dan temuan tersebut telah dipublikasikan dalam Structural Biology Communications.

Platypus sudah sejak lama menarik perhatian para ilmuwan untuk menelitinya menjadi objek penting dalam studi biologi evolusioner, karena dalam penelitian sebelumnya terungkap bahwa susu platypus mengandung sifat antibakter yang unik dan bisa melawan bakteri yang kebal dengan antibiotik.

Dr. Janet Newman yang merupakan peneliti utama studi tersebut mengatakan bahwa platypus merupakan hewan yang aneh dan itupula yang mungkin menjadikannya masuk akal memiliki kandungan senyawa kimia yang aneh pula dalam susu mereka.

“Tim ilmuwan, telah menandai protein baru yang terdapat dalam susu platypus yang dapat menyelamatkan nyawa manusia dari penyakit yang kebal dengan antibiotik,” katanya.

Ia menambahkan, tim peneliti sangat tertarik memeriksa struktur dan karakteristik protein tersebut untuk mengetahui secara tepat bagian protein mana yang melakukan apa.

Dari hasil penelitian, tim mendapati protein unik yang kemudian dijului dengan nama Shirley Temple dengan lipatan DNA 3D yang unik dan belum pernah dilihat sebelumnya. Penelitian lebih lanjut, peneliti berharap temuan ini benar-benar dapat diimplementasikan sebagai obat yang dapat mengatasi bakteri bakteri yang mulai kebal terhadap antibiotik. Semoga saja ya. [Ricky]