Ilustrasi diet keto (Foto: pinterest.com)

Seperti diketahui, bahwa yang bersalah terhadap kenaikan berat badan atau yang menyebabkan kegemukan adalah glukosa dan karbohidrat (Saat di dalam tubuh juga akan dipecah menjadi glukosa), bukan lemak seperti pemahaman lama.

Berawal dari pemahaman itulah, kemudian muncul hipotesa, bagaimana kalau kita tidak makan karbohidrat atau glukosa sama sekali, atau mungkin mengurangi konsumsinya, apakah berat badan akan turun drastis? Jawabannya, tentu saya ya. Dari sinilah kemudian diet keto atau ketogenic diet mulai dikembangkan.

Prinsipnya adalah mengurangi konsumsi karbohidrat atau glukosa atau bahkan tidak mengkonsumsinya sama sekali dan menggantikannya dengan konsumsi lemak dan atau protein, seperti dilansir laman harvard.edu.

Saat tubuh tidak mendapatkan glukosa dan karbohidat untuk dibakar menjadi energi, maka tubuh akan memasuki tahap ketosis, yaitu menggunakan senyawa keton yang diproduksi di hati untuk membakar lemak tubuh menjadi energi. Dari sinilah sebutan keto berasal.

Secara medis, sebenarnya diet ini cukup ekstrim, terutama bagi mereka yang sama sekali tidak mengkonsumsi karbohidrat atau glukosa. Seperti diketahui, glukosa, terdapat umumnya pada makanan atau minuman yang berasa manis. Sementara, karbohidrat merupakan kandungan utama makanan pokok manusia, yaitu berasal dari nasi, jagung, ubi, gandum dan sagu. Untuk orang Indonesia pertanyaanya adalah, apa jadinya kalau tidak makan nasi sama sekali?

Jawaban sederhananya adalah, tubuh tentu tidak mendapatkan sumber energi dari karbohidrat dan glukosa yang kemudian digantikan dengan energi dari lemak tubuh.

Tapi jika ingin melihat lebih jauh, masalah utamanya adalah, otak manusia tidak akan dapat bekerja dengan baik, karena ternyata otak manusia adalah satu-satunya organ tubuh yang tidak dapat menggunakan sumber energi lain kecuali dari glukosa dan karbohidrat. Jika mungkin kamu bukan orang yang hidup mengandalkan otak, mungkin diet keto tidak akan menjadi masalah ya.

Risiko Pada Anak-anak
Jika mau lebih spesifik, pada anak-anak, risiko diet keto pasti sangat jelas, selain sedang dalam masa pertumbuhan dan masih sekolah (Notabene perlu kinerja otak yang baik), tentu ini akan menjadi masalah besar.

Menurut Jurnal Pediatrik, pada anak-anak yang melakukan diet ketosis, selain mengganggu kinerja otaknya, juga mengakibatkan kelesuan, asidosis atau gangguan pernapasan, dehidrasi, gangguan pencernaan dan gula dara rendah.

Untuk waktu yang lama, hal paling berisiko pada anak-anak dengan diet keto adalah, kepadatan tulang rendah mengingat anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, kemudian pertumbuhan melambat, kolesterol tinggi dan kemungkinan terkena batu ginjal.

Risiko Pada Orang Dewasa
Sementara, bagi orang dewasa yang mungkin tidak lagi sedang dalam masa pertumbuhan dan pembelajaran, diet keto ternyata tetap berisiko tinggi. Sebuah jurnal yang diterbitkan dalam Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition sebelumnya mencatat, diet keto dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal, osteoporosis, detak jantung tidak normal, kelainan lipid bahkan hingga menyebabkan kematian mendadak yang mungkin berkaitan dengan gangguan kinerja otak.

Kemudian, jika diet keto anda lebih sedikit lemak dan tinggi protein, hal itu juga dapat meningkatkan risiko kanker dan ketidakmampuan otak untuk bekerja dengan baik.

Terlepas dari semua potensi risiko tersebut dan juga mempertimbangkan dahsyatnya diet keto dapat menurunkan berat badan, mungkin yang menjadi sangat mendasar untuk diingat adalah bahwa otak manusia tidak dapat bekerja tanpa glukosa. Glukosa dan karbohidrat adalah satu-satunya sumber energi yang bisa digunakan otak. Namun, jika kamu tidak masalah dengan otakmu yang akan menjadi lemot dan bahkan mungkin tidak berfungsi, diet keto mungkin bisa menjadi pertimbangan. [Ricky]