Pemuda hijrah mengikuti kegiatan belajar mengajar saat iktikaf 40 hari menyisiri pesisir pantai di mulai dari Masjid At-Taqwa Sungai Hitam hingga menuju Pulau Enggano, Sabtu (5/8/2020).

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Yooow, kawanmuda. Alhamdulillah, Allah masih mempertemukan dalam kondisi yang sehat wal’afiat. Itulah, bentuk jelas yang Allah tunjukkan bahwa ia masih menyucurkan nikmat kepada manusia. So, jangan lupa untuk bersyukur ya kawanmuda. Dengan mendirikan sholat lima waktu. Insya Allah, sang khalik akan menambahkan nikmat-nikmat lain yang dibutuhkan.

Langsung aja ya, kawanmuda. Kali ini, pedomanbengkulu.com hendak mengajak pembaca setia mengikuti perjalanan hamba Allah. Dalam menegakkan sunnah-sunnah Nabi Muhammad SAW, tentu dengan dorongan niat memperbaiki diri di kehidupan fana ini.

Khuruj fi sabilillah. Menurut penelitian Universitas Padjadjaran Bandung pada tahun 2019 lalu, merupakan metode dakwah yang berpindah-pindah dari satu tempat menuju tempat lainnya. Itu, dianggap fenomena yang dilakukan selama 40 hari.

Dalam kisahnya, Nabi Muhammad SAW pernah melakukan perjalanan dalam rentang waktu tersebut. Yaitu, guna berdiam dan menunggu wahyu yang akan diturunkan Allah Subhanahu wa ta’ala, melalui malaikat Jibril. Bertempat di Gua Hira, berteman Abu Bakar As-shidiq.

Namun, bagi sebagian manusia yang melakukan proses ‘hijrah’. Khuruj fi sabilillah, adalah sebuah proses membersihkan, memperbaiki dan islah (pembenahan) diri, atas perjalan hidup yang telah terlewati. Biasanya, program ini dilakukan oleh para salik atau umat yang telah melakukan proses dasar hijrah.

Proses dasar hijrah, ialah sebuah pengorbanan yang dilakukan anak manusia dengan cara meninggalkan sementara pemikiran tentang kehidupan dunia. Dan memfokuskan diri, memahami hakekat hidup yang bersangkutan dengan akhirat agar teringat mengenai alasan Allah meniupkan roh pada tubuh manusia.

Seperti firmannya :

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Surat al-Qurays ayat 2).

Proses hijrah gak sulit loh, kawanmuda. Cukup mengikuti program hijrah 72 jam yang dicanangkan Jamaah Tabligh. Insya Allah, niat lurus yang telah ditanam untuk keselamatan hidup di dunia dan akhirat, akan dijawab secara langsung oleh Allah aza wajalla ke hati.

Sementara, pada pengartiannya. Khuruj fi sabilillah merupakan program yang dijalankan Jamaah Tabligh, dari masjid ke masjid selama 40 hari. Guna membantu saudara-saudara muslim menghidupkan amalan-amalan di masjid setempat.

Kegiatan itu, bukan untuk seru-seruan. Melainkan, mengajak para laki-laki setempat untuk meramaikan masjid dengan melaksanakan sholat wajib berjamaah. Sebab, diyakini apabila orang-orang mulai memakmurkan dengan meramaikan masjid, niscaya Allah akan mencurahkan berupa nikmat dan hidayahnya.

Apa lagi, ditengah pandemi covid-19/corona yang sedang melanda Dunia. Insya Allah, program ini bisa dijadikan ujung tombak menekan penyebaran pandemi tersebut.

Nah, berlandaskan itu pasukan jamaah Masjid Al-manar Kelurahan Belakang Pondok Kecamatan Ratu Samban Kota/Provinsi Bengkulu mengorbankan diri tanpa pamrih. Melakukan perjalanan khuruj, bermodalkan niat menegakkan ajaran Agama Allah dengan mengamalkan sunah-sunah Rasulullah.

Selasa itu, (1/9/2020) menjelang masuk waktu dzuhur, sekira pukul 11.20 WIB. Dibawah terik matahari yang terasa, sedikit menyengat kulit. Pasukan jamaah Masjid Al-manar yang dikomandoi Ustad Dawam, tiba di masjid yang menjadi titik awal perjalanan khuruj 40 hari.

Masjid itu, tepat berada digaris perbatasan antara Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) dan Kota Bengkulu. Ya, itu Masjid At-taqwa yang berlokasi di kawasan yang tenar dengan sebutan Sungaihitam di Kelurahan Beringin Raya Kecamatan Muara Bangkahulu.

Saat tiba di halaman masjid, tampak rombongan jamaah satu persatu turun dari mobil pick-up yang menjadi kendaraan utama. “Barang-barangnya nanti saja diturunkan. Kita sholat tahyatul masjid dulu,” ujar Ustad Dawam.

Berselang beberapa menit setelah sholat sunnah itu, tampak seorang lelaki bertubuh besar menghampiri rombongan jamaah yang beranggotakan 13 orang tersebut. Dengan ramah, pria berkulit gelap bertanya.

“Sudah lama ya, tiba disini. Barang-barangnya susun disini saja,” kata Imam masjid, Mursalin sambil menunjuk sebuah ruangan yang berada di dalam masjid tersebut.

Mendapat sambutan hangat itu, spontan membuat level semangat rombongan jamaah meningkat untuk sesegera mungkin menjalankan program khuruj tersebut. Dengan kilat, tas dan ransel yang berisikan pakaian. Hingga kompor, wajan, kuali dan perlengkapan masak lainnya diturunkan back mobil kendaraan tersebut.

Menurut kisahnya, masjid yang berdiri di lingkungan Rt 07 Rw 03 ini sudah ada sejak zaman penjajahan, tahun 1911 silam. Saat itu, masjid yang diperkirakan berusia lebih dari satu abad ini masih dalam kondisi memprihatinkan.

“Dulu, masjid ini terbuat dari kayu, papan dan bambu. Jadi, bisa diangkat untuk dipindahkan,” kata Iwan, Ketua Rt 07.

Wajar saja, pada zaman itu Masjid At-taqwa dibangun dengan metode yang tak bisa didefinisikan tersebut. Lantaran, masa itu Bangsa Belanda dan Jepang masih melakukan penjajahan di Bengkulu, terutama terhadap Republik Indonesia.

“Jadi, bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Masjid itu bisa langsung diselamatkan,” ucap Iwan.

Seiring berjalannya waktu, perkembangan yang dialami zaman membuat masyarakat berinisiatif mempermanenkan masjid tersebut. Sehingga, dengan hasil swadaya masyarakat dahulu masjid tua ini terbangun seadanya.

“Saya tidak terlalu ingat, kapan dan berapa kali masjid ini di renovasi. Seingat saya, terakhir direnovasi tahun 2012,” kata Iwan, ketua Rt 07.

Setelah selesai, menurunkan dan menyusun barang-barang yang dibutuhkan dalam perjalanan wisata khuruj. Pasukan jamaah itu pun, segera menyusun program-program dalam berwisata.

Mulai dari program khidmad (memasak), taklim pagi, taklim dzuhur dan muzakaroh. Serta, program taklim sesudah adzan ashar, targibh ashar, taklim usaha memakmurkan masjid, dan takrir.

Kemudian, program bayan atau tausiyah maghrib, membaca surat as-sajadah beserta al-mulk, membaca surat yasin menjelang shubuh dan bayan shubuh pun disusun secara cermat.

Nah, pasti kawanmuda bingung dengan arti, maksud dan tujuan program-program tersebut. Tentu saja, hal itu membuat otak dan fikiran berputar tanpa ada muara. Lantaran, program ini tidak bisa dijelaskan melalui kalimat dan kata-kata sederhana loh, guys.

Ada baiknya, bagi kawanmuda yang penasaran akan proses program wisata khuruj disarankan untuk mencari jawabannya sendiri. Yaitu, dengan mengikuti secara langsung program-program tersebut.

Tidak perlu khawatir. Insya Allah, program tersebut akan membuat kehidupan di dunia yang sementara ini, bisa lebih baik dari hari-hari yang telah berlalu loh kawanmuda. Jadi, tunggu apalagi. Yuk, kita berwisata di Jalan Allah.

Bagi kawanmuda yang berniat untuk mengikuti program wisata khuruj, bisa mencari informasi keberadaan jamaah ini di Masjid Agung At-taqwa di Kelurahan Anggut dan Masjid Al-manar yang berlokasi, di kawasan Pasar Minggu Bengkulu.

Sedikit informasi, pasukan jamaah masjid Al-manar ini bukan berasal dari para pengangguran yang tidak memiliki pekerjaan atau penghasilan. Sebab, dalam melakukan wisata khuruj ini mereka merogoh kocek pribadi yang diperas dari hasil yang halal.

(Bersambung)

Al-Fatih