Entah apa yang “merasuki” calon Gubernur dan Wakil Gubernur Bengkulu nomor 01, Helmi Hasan dan Muslihan Diding Soetrisno, di saat yang lain kampanye di hotel-hotel, di gedung-gedung, ke rumah-rumah yang jalannya lancar jaya, Helmi Hasan malah masuk ke pelosok hutan belantara yang sulit dilalui kendaraan. Hingga ini menjadi kisah nyata penuh makna, yang tergores tinta media.

MUKOMUKO – Benni Hidayat

LANGIT mendung, hujan turun di bumi Kabupaten Mukomuko. Kampanye Minggu (8/11/2020) pagi Helmi Hasan dimulai dari Kota Mukomuko, puluhan Milenial Helmi-Muslihan, sudah menunggu.

Helmi Hasan mampir dulu ke rumah Pemuka Kaum 6 di Hulu, Dali, karena Helmi sudah diangkat sebagai keluarga Kaum 6 di Hulu.

Hanya 30 menit dan sempat mencicipi kue khas Maulid Nabi setempat, Helmi pamit untuk kampanye, menemui Milenial Mukomuko.

Di sinipun tak lama, karena jadwal kampanye Helmi padat. Ia langsung menuju rumah-rumah warga beberapa desa di Kecamatan Ipuh dan lainnya.

Hanya kampanye 10 menit, pindah lagi ke tempat lain. Meski hanya sesaat, ternyata antusias masyarakat membuat Helmi Hasan makin semangat.

Nah, sisa dua lokasi kampanye. Ini perkara berat. Pasalnya, lokasinya harus menempuh jalan pedalaman hutan dan perkebunan warga.

Jalannya tanah liat dan koral. Belum lagi, hujan yang mengguyur membuat jalur ini makin sulit di tempuh. Beberapa kendaraan yang tak ada double gardar, dititipkan ke rumah warga terdekat.

Helmi Hasan dan kru, mulai bergerak. Jaraknya sekitar 20 Km. Sepanjang perjalanan, nampak beberapa mobil pick up “ditelan” lumpur.

Hingga di tengah perjalanan, iring-iringan mobil Helmi Hasan, menemukan dua motor berhenti di tengah hutan.

Satu motor ditumpang suami istri, Pardianto. Satu motor lagi, seorang pria yang membawa Suminah, ibu Fisa. Mereka tak mampu melanjutkan perjalanan, karena khawatir dengan kondisi Fisa, yang membawa kandungan 9 bulan dan tinggal menunggu hari.

Sang suami, minta tumpangan untuk istrinya. Awalnya, Fisa dibawa dengan mobil Strada yang berada di barisan paling depan.

Helmi Hasan Teringat Pengalaman Ibu

Helmi yang tidak tahu ada tumpangan ibu hamil, setelah diberitahu, ia lalu meminta iring-iringan berhenti.

Ibu hamil tadi dipanggil dan disuruh naik Pajero Sport mobilnya, agar Fisa lebih nyaman melintasi jalan buruk menuju desanya.

Fisa duduk paling depan, di samping sopir, “Naik sini aja, silakan masuk,” ajak Helmi kepada Fisa.

“Ini pak Helmi, numpang pak. Istri saya hamil, kami gak sanggup lagi meneruskan perjalanan membawa ibu hamil dengan motor,” kata suaminya, Pardianto.

“Jalan ini sudah 25 tahun saya tinggal di sini, jalan desa kami rusak seperti ini dari dulu, belum pernah dibangun,” cerita Pardianto.

“Insya Allah, insya Allah, mudah-mudahan nanti kalau Allah mengizinkan jadi Gubernur Bengkulu, akan kita perbaiki jalan. Kita harus ada perubahan,” jawab Helmi kepada Pardianto.

Fisa tampak lelah setelah perjalanan lumayan jauh dengan motor, di jalan parah menuju desanya.

“Mbak tadi dari mana? Kok hamil lewat jalan parah seperti ini?” tanya host Nyinyir BDTV Cacam Nian, Benni Hidayat yang satu mobil dengan Helmi Hasan.

“Dari USG (periksa kandungan ke dokter). Sedih pak, jalan desa kami kayak gini,” cerita Fisa.

“Masya Allah, Astagfirullah, 25 tahun kondisi jalannya seperti. Saya jadi teringat ibu saya, yang dulu hamil gak ada kendaraan dan harus melintasi jalan buruk,” kenang Helmi mengingat kisah ibunya, Siti Zainab.

“Bengkulu perlu perubahan. Masya Allah. Kita harus bantu masyarakat. Itu kenapa Helmi Hasan maju pemilihan gubernur (Pilgub), untuk membawa perubahan. Jalan buruk seperti ini tidak boleh dilanjutkan,” tegas Helmi.

“Di desa kami tak ada ambulance. Kalau menyewa mobil, bayarnya mahal. Makanya pakai motor,” cerita Fisa lagi.

Helmi sempat menarik nafas panjang mendengar cerita Fisa. Ia tampak masih terkenang apa yang ibunya alami dulu. “Ya Allah, untung kita ketemu,” kata Helmi dengan Fisa.

“Mbak mau desanya ada ambulance gratis dan jalan ke desanya bagus?” tanya Benni ke Fisa.

“Iya lah mas, kami sangat mengharapkan itu. Sedih mas kondisi desa kami. Ke sekolah saja, jalannya jelek seperti ini. Kandungan saya ini anak pertama. Baru ini saya naik mobil bagus. Sama pak Helmi,” kata jawab Fisa.

“Wah nanti anaknya dikasih nama Helmi Hasan dong,” canda Benni disambut tawa Fisa dan Helmi Hasan.

“Nomor 1 dan mengandung anak nomor 1. Wah cocok ini,” tambah Helmi Hasan, kami seisi mobil pun tertawa.

Namun sepertinya gak jadi diberi nama Helmi Hasan, karena hasil USG diprediksi anak dalam kandungan itu perempuan. Hehehehehe…

Tergantung Niat Pemimpin

Bagi Helmi, cerita Fisa merupakan sebagian kecil cerita yang ia dapat dari banyak masalah di pedesaan, hingga pelosok Provinsi Bengkulu.

Bahkan, ia juga mendengar langsung keluhan masyarakat Kabupaten Kaur yang ada di pedalaman, yang membawa jenazah dengan motor trail.

“Bagi saya, perjalanan kampanye ini bukan perjalanan politik. Tapi bagi saya, ini perjalanan dakwah. Sehingga kita tahu apa yang masyarakat rasakan dan apa yang harus diperbuat, jika Allah mengamanahkan menjadi gubernur,” ujar Helmi.

Masalah yang dihadapi masyarakat pedalaman di Provinsi Bengkulu, terjawab dengan 20 Kunci Bahagia Ala Helmi-Muslihan.

“Itulah kenapa Helmi Hasan dan pak Muslihan maju. Agar kami bisa membantu masyarakat. Pemimpin itu tergantung niat. Kalau pemimpin bilang gak ada uangnya, berarti sudah tidak ada niat,” jelas Helmi.

Setelah perjalanan hampir 1 jam, kami sampai di lokasi kampanye Desa Gajah Makmur Kabupaten Mukomuko, Helmi lalu menemui warga yang sudah menunggu lama.

“Terimakasih pak Helmi,” teriak Pardiato, suami Fisa.

Ternyata, desa ibu hamil ini masih 2 Km perjalanan lagi. Akhirnya, kru berinisiatif mengantarnya sampai ke rumah.

“Beginilah mas, kondisi desa kami. Jalannya jelek sekali. Pernah ada yang hamil, melahirkan di jalan. Alhamdulillah, kami dibantu pak Helmi,” kata Suminah, ibu Fisa.
Sesampainya di rumah, Fisa disambut ayah dan adiknya. “Sampaikan terimakasih kami ke pak Helmi. Kami mendoakan perjuangan pak Helmi yang selalu membantu masyarakat. Terutama masyarakat kecil seperti kami. Semoga pak Helmi duduk jadi gubernur,” kata Pardianto.

“Terimakasih ya, sudah ditumpangi,” kata Sarno, ayah Fisa.

“Untung kami dibantu mas, kalau tadi gak dibantu pak Helmi, mungkin kami baru sampai malam di desa kami,” sahut Pardianto.

Bisa dibayangkan, ibu hamil di pedalaman hutan dan perkebunan saat malam, yang masih banyak babi hutan dan satwa liar lainnya. “Wai cacam, bahaya kalau gitu,” tukas Benni.(**)