PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Konflik yang berkepanjangan antara Nelayan Tradisional dan Nelayan Trawl kembali memuncak dengan saling kejar-kejaran diperairan laut di Kabupaten Bengkulu Utara, Jum’at (25/12/2020) keduanya kembali saling serang sehingga menimbulkan korban jiwa.

Bentrokan ini terjadi karena Nelayan Trawl yang masih menggunakan alat penangkapan ikan (API) cantrang yang masuk dalam kelompok pukat tarik berkapal (boat or vessel seines). Pelarangan ini resmi disampaikan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada 2015.

Disampaikan Kusnadi, salah satu Tokoh masyarakat, perwakilan Desa Urai, menjelaskan kronologi bentroknya antara Nelayan Tradisional dan Nelayan Trawl bermula masyarakat yang selama ini sudah geram dengan aksi penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap yang dilarang.

“Pagi-pagi nelayan tradisional ini setengah mil dari bibir pantai sedang melakukan patroli apakah masih ada nelayan Trawl menangkap ikan, lalu kemudian mereka melihat ternyata masih ada,” ungkapnya.

Patroli ini dilakukan karena pihak nelayan Trawl selama ini sudah beberapa kali telah merusak alat tangkap nelayan tradisional, dengan menggunakan alat tangkap dari nelayan Trawls membuat ke tariknya alat tangkap nelayan tradisional, sehingga ini merusak.

“Nelayan Trawl ini sudah beberapa kali menarik alat tangkap nelayan tradisional Bengkulu Utara sehingga membuat alat tangkap tersebut menjadi rusak. Hal inilah awalnya yang membuat nelayan tradisional menjadi terpancing, dengan cara untuk menangkap nelayan Trawl yang telah merusak alat tangkap nelayan tradisional,” terangnya.

Namun, pada saat patroli sedang berlangsung, terjadilah hal yang tidak diinginkan, pasalnya pada saat penangkapan, nelayan Trawl tiba-tiba menembaki nelayan Tradisional sehingga nelayan tradisional terpancing.

“Ketika pada saat pengejaran, nelayan tradisional mendapatkan perlakuan yang membuat mereka terpancing, karena mereka (Nelayan Trawl) menembaki nelayan tradisional,” jelasnya.

Dirinya juga menyampaikan, bahwasanya kejadian bentrok antara nelayan Trawl dan nelayan tradisional tersebut sudah diserahkan kepada pihak yang berwajib yakni pihak kepolisian. Dan berharap kejadian ini bisa diselesaikan.

“Kasus ini sudah kami serahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian, dan sebagai perwakilan tokoh masyarakat sekaligus mewakili nelayan tradisional berharap dengan peristiwa ini kepada Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara bisa menyelesaikan permasalahan ini agar tidak berlarut sesuai dengan aturan yang ada,” harapnya.

Masih Kusnadi, aturan yang dirinya maksud, bahwa pelarangan penggunaan pelarangan alat penangkapan ikan (API) cantrang yang masuk dalam kelompok pukat tarik berkapal (boat or vessel seines).

“Larangan tersebut resmi berlaku setelah KKP menerbitkan Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan (KP) Nomor 2 Tahun 2015 tentang Larangan Penggunaan API Pukat Hela (Trawls) dan Pukat Tarik (Seine Nets) di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia,” pungkasnya. [Soprian]