Ketua Komisi I DPRD Provinsi Bengkulu, Sumardi

PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Konflik nelayan di Desa Pasar Palik Kecamatan Air Napal Kabupaten Bengkulu Utara yang menyebabkan pertikaian, merupakan permasalahan klasik yang selalu terjadi di Bumi Rafflesia. Itu, bukan lain bentuk ketidaksenangan nelayan tradisional akan kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan, nelayan dengan alat pukat harimau atau trawl.

Menanggapi masalah berkepanjangan yang berbuntut hingga ke ranah kepolisian itu, ternyata memicu Anggota DPRD Provinsi Bengkulu pun angkat bicara. Ketua Komisi I DPRD Provinsi Bengkulu, Sumardi mengatakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) harus mengambil sikap akan konflik tersebut.

“Solusinya, harus ada komunikasi. Kepala DKP Provinsi dan DKP kota/kabupaten berkoordinasi untuk memfasilitasi, mempertemukan mereka,” kata Sumardi kepada awak media, pada Kamis (31/12/2020).

Menurut Sumardi, komunikasi diantara pemangku kepentingan mengenai alat tangkap sangat perlu dilakukan. Lantaran, tempat nelayan tradisional mengais rezeki hanya dibagian tepi yang diperkirakan, hanya berjarak dua atau tiga mil dari bibir pantai.

“Apabila diluar itu, artinya untuk kapal bermesin 3 gt keatas. Jangan mengambil hak-hak nelayan itu, inilah yang harus diberitahukan betul kepada pengusaha-pengusaha tersebut,” ungkapnya.

Terkadang, ia melanjutkan, kapal-kapal penangkap ikan dengan bobot besar itu kemungkinan tidak menangkap ikan menggunakan trawl. Namun, nelayan tradisional menduga mereka menangkap menggunakan alat yang berkemungkinan besar, merusak ekosistem laut.

“Atau kemungkinan alat mereka itu sampai menghantam, alat-alat nelayan tradisional yang diinapkan sampai empat atau lima jam dilaut,” tutur Sumardi.

Oleh karena itu, Sumardi menegaskan kata sepakat akan muncul apabila ada komunikasi dan koordinasi diantara kedua kelompok tersebut. Saat ini, nelayan tradisional sedang dalam posisi terdesak dikarenakan pekerjaan mereka terganggu.

“Jika tidak dipertemukan, mereka akan saling curiga. Dulu kan pernah kita fasilitasi dan berhenti. Nah ini, mungkin karena hening, timbul lagi,” tutup Sumardi. [Alfi/ADV]