PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Hari Perempuan Internasional atau yang sering kita dengar International Womens Day 2021 yang diperingati tepat pada 8 Maret, di tahun ini secara nasional mengangkat tema kampanye “Choose to challenge”.

“Choose to challenge” Tema yang diangkat dilansir di laman komunitas International Womens Day (IWD) diambil sebagai bentuk bahwa kaum perempuan berani mengambil pilihan dan tantangan.

Tema “Choose to challenge” tersirat pesan bahwa perempuan harus melawan ketidaksetaraan, bias, dan stereotip terhadap kaum perempuan, juga siap membantu terwujudnya dunia yang inklusif.

Berbeda di Bengkulu di tanahnya Ibu Negara yang menjahit bendera merah putih pertama yakni Fatmawati, ada segelintir kaum perempuan yang berani mempertaruhkan seluruh jiwa raganya demi mendapatkan Rupiah.

Perempuan tersebut adalah pekerja Seks Komersial (PSK), para perempuan yang pekerja melayani aktivitas seksual dengan tujuan untuk mendapatkan upah atau uang dari yang telah memakai jasanya.

Salah satu PSK yang tidak ingin disebutkan namanya, setelah berbincang-bincang tentang aktivitas pekerjaan seksualnya mengatakan bahwa dirinya melakukan pekerjaannya hanya demi upah.

“Pekerjaan ini untuk mencari uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya, Senin (08/03/2021) malam, yang tidak jauh dari Simpang Lampu merah Panorama.

Pekerjaan dengan mengharapkan upah berupa uang tersebut tentu sangatlah beresiko tinggi, dan walaupun demikian pekerjaan yang ia lakukan tetap dirinya kerjakan. Upahnya dari Rp 80.000 hingga Rp 100.000.

“Satu kali Rp 100.000, udah termasuk sewa tempat,” singkatnya.

Dirinya juga menyampaikan, tempat yang digunakan dalam transaksi tidak jauh dari POM Bensin, serta dia juga menyebutkan tempat tersebut sangat dijamin keamanannya.

“Tempat di belakang POM Bensin, harga satu kamar Rp 25.000, dan terjamin keamanannya,” katanya saat berbincang-bincang.

Ia juga menyampaikan, tempat sering dirinya bersama teman-temannya mangkal tidak pindah-pindah, setelah mendapatkan tamu barulah pindah.

“Kami bersama teman-teman mangkal tetap disini. Setelah mendapatkan pelanggan baru pindah,” katanya.

Tidak sampai disitu, dirinya juga menyebutkan bahwa diantara dia dan teman-temannya ada salah satu yang sudah terinfeksi.

“Diantara kami sudah ada yang terinfeksi virus HIV, dan kalau saya tidak, karena saya selalu rutin melakukan pengecekan dan disuntik,” tutupnya. [Soprian]