PedomanBengkulu.com, Seluma – Kasus dugaan kekerasan seksual terhadap perempuan dibawah umur lagi lagi terulang di Kabupaten Seluma. Kali ini seorang gadis dibawah umur berinisial A (15) warga kecamatan Seluma Utara menjadi korban kekerasan seksual, yang diduga dilakukan oleh tetangganya sendiri berinisial K-S (44) yang sehari harinya bekerja sebagai petani.

Berdasarkan keterangan resmi dari Polres Seluma, kasus kekerasan seksual tersebut terjadi lebih dari satu kali, sejak Oktober hingga Desember 2020 lalu. Perbuatan bejat pelaku tersebut dilakukan di empat lokasi berbeda. Adapun dalam aksinya pelaku menipu daya korban dengan memberikan sejumlah uang.

“Korban setiap mendapat perlakuan tidak senonoh pelaku, selalu diberi uang dengan jumlah bervariasi, mulai dari Rp. 50 ribu sampai dengan Rp. 200 ribu,” jelas Kasat Reskrim Polres Seluma, AKP. Andi Ahmad Bustanil (4/3/2021).

Perbuatan tidak senonoh pelaku terungkap, setelah aksinya diketahui oleh tetangga korban , yang kemudian memberi tahu keluarga korban. Kasus tersebut kemudian dilaporkan ke Polres Seluma, hingga akhirnya pelaku berhasil diamankan petugas.

“Pelaku telah kami amankan beserta sejumlah barang bukti, dan hasil visum terhadap korban,” jelas Andi.

Pelaku dikenakan Pasal 76 D sub Pasal 76E UU RI no 35 thn 2014 tentang perubahan atas UU No 23 thn 2002 tentang perlindungan anak juncto Pasal 81 ayat 1 dan 2 subsider Pasal 82 ayat 1 UU no 17 thn 2016 tentang perubahan kedua UU no 23 thn 2002 tentang perlindungan anak.

“Ancamannya 15 tahun penjara,” jelas Andi.

*Stop Menyalahkan Korban Kekerasan Seksual*

Setiap tindakan kekerasan seksual terhadap perempuan khususnya anak dibawah umur, bukanlah merupakan kesalahan dari korban atau penyintas. Sayangnya masih saja terdapat kebiasaan dari masyarakat, yang menyalahkan korban setiap ada peristiwa serupa menimpa para penyintas. Untuk itu diperlukannya sikap empati dan membela penyintas, dalam upaya pemulihan kondisi psikis setiap penyintas kekerasan seksual. The Convertation dalam laman https://theconversation.com/kuatnya-budaya-victim-blaming-hambat-gerakan-metoo-di-indonesia-107455 mengatakan, perubahan cara pandang sangat penting dalam upaya pencegahan kekerasan seksual.

“Sikap menyalahkan korban dan budaya memerkosa adalah masalah yang sudah mengakar dalam masyarakat Indonesia. Untuk melawannya, kita harus selalu mendukung penyintas, tidak hanya ketika kasus tersebut menimbulkan reaksi publik tapi setiap saat. Kita juga perlu mengubah cara pandang kita terhadap masalah pemerkosaan, dimulai dengan menghargai jenis pakaian apa pun yang mereka kenakan,” jelasnya. [IT2006]