Memasuki gerbang Millenial, tidak serta merta kita bisa bebas meninggalkan jejak masa lampau, bijak dalam menyikapi sesuatu kondisi yang hadir juga perlu menyimak masa yang telah dilalui sebagai cermin untuk melangkah kedepan dengan santun.

Karakter Wasathiyah, juga bisa dimaksudkan mempertahankan tradisi dan khazanah budaya yang menopang ajaran dan syiar agama, dalam menjadikan budaya sebagai infrastruktur agama.

Tentu saja sepanjang tradisi, budaya, dan adat istiadat yang ada, tidak bertentangan dengan syariat Islam. Sebab, agama akan kering tanpa budaya.

_Kaidah fiqihnya, al-muhafadzah alal-qadim al-shalih wal-akhdzu bil-jadid al-ashlah_

_Melestarikan nilai-nilai lama yang baik dan menerapkan nilai-nilai baru yang lebih baik._

Tradisi-tradisi dan karakter budaya serta kebiasaan disini bisa dimaksudkan dalam berbagai konteks, seprti misalnya pada tatanan masyarakat lokal, sarana-sarana lembaga peribadatan, dan kultur dalam suatu majlis atau jamaah serta lain sebagainya.

Sehingga, gairah-gairah yang selama ini bertahan hidup dan menghidupkan akan tetap berperan dengan penyesuaian-penyesuaian kondisi zaman sehingga dapat terterapkan dengan kelenturan adab, komunikasi serta sikap yang bisa memungkinkan untuk selalu berupaya ibarat ‘ _menarik rambut didalam tepung_ ‘.

Konsep Wasathiyah ini sebenarnya sudah terpatri pada masa terdahulu oleh nenek moyang kita, sehingga terbukti mereka mengayomi dan menanamkan esensi tersebut hidup sampai sekarang.

Upaya dan karakter tradisi lokal seperti ini harus kita hargai, sehingga gairah dalam menumbuh kembangkan syiar dan peran terus hidup dalam mengiringi langkah-langkah para generasi yang santun, cerdas dan peka dalam menyesuaikan diri pada kondisi Millenial yang sulit mereka hindari.

Dasar-dasar karakter Wasathiyah nan kuat akan membuahkan istiqomah dan kepekaan serta kesantunan yang akan menghargai kemajemukan, kecintaan kepada tanah air dan bangsa, serta piawai menghindari perpecahan dan benturan-benturan konflik sosial.

Upaya-upaya semacam ini harus secara bersama dan bersinergi dalam mewujudkannya kepada generasi, akan gagal jika dilakukan secara parsial, dan tentu akan terasa ringan dan rileks jika menjadi tanggung jawab bersama disemua tingkatan sosial.

10 atau 20 tahun kedepan, siap atau tidak nya generasi dalam menghadapi tantangan yang serba tidak terbatas, karena kemajuan tehnologi dan media digital yang semakin melaju dan berkembang, ini dapat diukur seberapa kuatnya dasar-dasar esensi wasathiyah ini di hunjamkan kepada wawasan dan prinsip-prinsip para generasi. Dari sekarang, wadah tersebut harus dipersiapkan dan ditempa kepada karakter moderat para generasi. Sehingga seberapapun ekstrimnya deraan kemajuan perubahan zaman akan bisa mereka hadapi dengan penyesuaian-penyesuaian yang bijak, handal dan bernilai ditengah-tengah masyarakat dan umat.

Wasathiyah, adalah sebagai jembatan antara konsep generasi terdahulu dengan gerbang era zaman sekatang dan akan datang dengan tidak mengikis nilai-nilai tradisi, budaya dan adat lokal.

Pemerhati Benkoelen