Hj Riri Damayanti John Latief

PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Catatan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menyebutkan sebanyak 1.360 bencana telah terjadi di Indonesia sejak 1 Januari hingga 31 Mei 2021 yang mengakibatkan 493 orang meninggal, 68 orang hilang, 5.300.257 orang mengungsi serta 12.831 orang luka-luka, cukup mencengangkan.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief mengungkapkan, banyaknya bencana tersebut menunjukkan bahwa penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Penanggulangan Bencana untuk merivisi regulasi yang lama teramat penting.

“Literasi kebencanaan masyarakat harus segera ditingkatkan. Perlu kurikulum kebencanaan dari mulai tingkat sekolah dasar hingga universitas, mencakup teori dan praktik sehingga di setiap tingkat sekolah dapat menggelar simulasi kebencanaan secara rutin,” kata Hj Riri Damayanti John Latief, Rabu (2/6/2021).

Wakil Bendahara III Ikatan Keluarga Seluma, Manna, Kaur (SEMAKU) ini menekankan, rencana penanggulangan bencana harus disusun secara sistematis dan terstruktur antar sektor berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan dapat mengakses lintas wilayah.

“Saya terima banyak keluhan SDM (sumber daya manusia) di daerah belum memiliki sertifikasi kompetensi di bidang kebencanaan. Jadi mulai sekarang harus banyak pelatihan, sumber daya militer dan pakar-pakar kebencanaan harus difasilitasi supaya bisa kasih bekal tanggap bencana kepada SDM non militer dan minim pengetahuan tentang kebencanaan,” tandas Hj Riri Damayanti John Latief.

Ketua Umum Pemuda Jang Pat Petulai (PJPP) ini memaparkan, perlu penguatan lembaga informasi kebencanaan yang dapat memberikan informasi berita kebencanaan setiap hari maupun informasi terkait edukasi kebencanaan dengan melibatkan masyarakat secara luas.

“Para relawan dan dana bantuan secara nasional harus satu padu. Susun data yang benar-benar akurat terhadap bencana yang berulang dan potensi bencana yang akan terjadi di masa depan,” sampai Hj Riri Damayanti John Latief.

Wakil Ketua OPK BKMT Dewan Masjid Indonesia Provinsi Bengkulu ini menambahkan, tak kalah penting adalah pengembangan lebih jauh terkait mitigasi bencana melalui pendekatan religiusitas dan atau spritualitas.

“Banyak firman Allah dalam berbagai kitab suci menjelaskan eratnya kaitan antara bencana dengan dosa. Jadi seharusnya tokoh agama perannya perlu diperkuat dalam mitigasi bencana,” demikian Hj Riri Damayanti John Latief.

Data terhimpun, data BNPB menyebutkan dari 1.360 bencana yang terjadi di Indonesia sejak 1 Januari hingga 31 Mei 2021 jenis bencana terbanyak ialah bencana hidrometeorologi seperti banjir dan puting beliung.

Banjir terjadi dengan 583 kejadian, puting beliung dengan 364 kejadian, dan tanah longsor dengan 271 kejadian. Sementara, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 102 kejadian, gelombang pasang dan abrasi dengan 19 kejadian dan kekeringan dengan dua kejadian.

Bencana tersebut menyebabkan 134.805 rumah rusak yang terdiri dari 14.608 rumah rusak berat, 22.365 rumah rusak sedang, dan 97.832 rumah rusak ringan. Sementara kerusakan juga terjadi pada fasilitas pendidikan 1.367 unit, fasilitas peribadatan 1.205 unit, fasilitas kesehatan 346 unit, 492 perkantoran dan 282 jembatan. [Muhammad Qolbi]