PedomanBengkulu.com, Kota Bengkulu – Mungkin julukan “koboi” pas dengan pembawaan pemimpin satu ini. Tak seperti pejabat kebanyakan yang lebih memilih menunggu pengantin di gedung atau tenda yang teduh, saat menghadiri pesta pernikahan warganya, Wakil Walikota Bengkulu Dr. Dedy Wahyudi, SE, MM tiba-tiba menerobos barisan belakang arak-arakan pengantin, Minggu (6/6/2021) siang.

Tanpa dipayungi di bawah terik matahari, DeWa –sapaan akrab Dedy Wahyudi–, langsung menyandang tambur (tambua) dan berbaur dengan warga memainkan gendang khas Minangkabau, mengiringi pengantin pria bertemu pasangan hidupnya.

Tak ayal, tingkah DeWa ini menarik perhatian warga. Alamat kamera handphone warga langsung menyorot ke Wawali Kota Bengkulu. Tanpa malu, DeWa sesekali ikut bergoyang sambil menabuh tambur.

Tambur sendiri adalah alat musik perkusi populer di Sumatera Barat yang sederhana namun mampu menimbulkan kemeriahan di acara atau pertunjukan. Meski asli Bengkulu, namun DeWa memang dikenal dekat dengan warga Minangkabau Sumatera Barat di Provinsi Bengkulu.

Saat memberi sambutan di acara pernikahan, terungkap Dian Fitriani, SE istri Wawali ternyata berdarah Minang tepatnya di Maninjau, Sumatera Barat. “Biasanya saya hanya melihat orang bermain Tambur. Nah di pernikahan Adinda Ayu Rahmawati, S. Farm dan Sholeh Heno Putra, S.Pd (warga Kota Bengkulu) ini, saya coba langsung gimana rasanya main Tambur. Ternyata lumayan, bakaringek (berkeringat),” kata DeWa disambut tawa hadirin.

Diungkap DeWa masih dalam sambutannya, Tambur yang ia mainkan hadiah spesial untuk pengantin dan bersama-sama warga berbagi kebahagiaan. Tak lupa, DeWa mengajak masyarakat untuk tetap menjaga protokol kesehatan dan berolahraga karena masih suasana pandemi Covid-19.

“Saya perhatikan, di pesta pernikahan ini sudah menjaga protokol kesehatan. Kami Pemerintah Kota Bengkulu, juga mengajak semua warga terutama kaula muda, tetap menjaga budaya kita. Sehingga ciri khas budaya Indonesia tetap hidup selamanya,” imbuh DeWa.

Di akhir sambutannya, DeWa yang dikenal pandai membuat pantun dadakan, memberi doa dengan pantun untuk pengantin. “Ayu dan Sholeh duduk di singgasana, keduanya bak ratu dan raja. Bapak ibu mari kita sama-sama berdoa, agar Ayu dan Sholeh hidup berbahagia,” ucap DeWa. [ADV]