Sarah Mega Pratenna Kaban, Fakultas Bioteknologi, Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta

Penyakit tular vektor atau dikenal dengan vector borne disease merupakan suatu penularan penyakit pada manusia melalui vektor penyakit. Vektor sendiri adalah artropoda yang dapat menularkan, memindahkan, dan/atau menjadi sumber penular penyakit.

Salah satu penyakit tular vektor adalah malaria yang disebabkan oleh serangga berupa nyamuk. Malaria merupakan penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena seringkali menimbulkan kejadian luar biasa (KLB), berdampak luas terhadap kualitas kehidupan dan ekonomi, dan dapat menyebabkan kematian.

Provinsi Bengkulu merupakan salah satu daerah endemis malaria dan hampir di semua kecamatan Kota Bengkulu terdapat kasus malaria, baik yang terdiagnosis secara klinis maupun secara mikroskopis.

Malaria adalah penyakit yang menyerang manusia, burung, kera dan primata lainnya, hewan melata, dan hewan pengerat. Secara umum, malaria disebabkan oleh infeksi protozoa dari genus plasmodium yang ditularkan ke manusia oleh nyamuk Anopheles sp. dengan gejala demam yang sering atau periodik, anemia, pembesaran limpha dan berbagai kumpulan gejala lain (Arsin, 2012).

Seseorang dapat terjangkit malaria karena terinfeksi oleh plasmodium yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles betina sehingga terjadi infeksi pada sel darah merah. Kemudian, parasit plasmodium ini berkembang di dalam sistem imun (kekebalan tubuh) manusia, menginfeksi hati, dan menghancurkan sel darah merah sehingga menyebabkan demam. Demam ini dapat terjadi selama dua minggu setelah infeksi.

Trend Positif Penurunan Insidensi

Di Indonesia, sekitar 35 % penduduknya tinggal di daerah berisiko malaria dan dilaporkan sebanyak 38 ribu orang meninggal setiap tahunnya karena malaria berat (Kementrian Kesehatan RI, 2016). Indonesia memiliki prevalensi malaria sebesar 1,4% dengan angka API tahun 2015 sebesar 0,85% dan Provinsi Bengkulu menduduki peringkat ke-6 yang memiliki angka prevalensi sebesar 1,5% dan angka API sebesar 2,03% (Kementrian Kesehatan RI, 2016).

Kota Bengkulu termasuk daerah endemis malaria, hampir di semua kecamatan Kota Bengkulu terdapat kasus malaria baik yang terdiagnosis secara klinis maupun secara mikroskopis. Pada periode tahun 2014 malaria menempati urutan ke tiga dari sepuluh daftar penyakit terbanyak dengan jumlah kasus sebanyak 5.779 kasus yang tersebar di Sembilan kecamatan, yaitu Kecamatan Ratu Samban sebanyak 707 kasus, Kecamatan Gading Cempaka sebanyak 946 kasus, Kecamatan Ratu Agung sebanyak 2021 kasus, Kecamatan Teluk Segara sebanyak 898 kasus, Kecamatan Sungai Serut sebanyak 1.133 kasus, Kecamatan Muara Bangkahulu sebanyak 2.082 kasus, Kecamatan Selebar sebanyak 2.271 kasus, Kecamatan Kampung Melayu sebanyak 499 kasus dan Kecamatan Singaran Pati sebanyak 1.130 kasus. Tingginya transmisi kasus malaria ini dimungkinkan karena di sekitar pemukiman warga terdapat area perkebunan, hutan, dan rawa (Triana, Rosana, & Anggraini, 2017).

Namun, pada tahun 2020 Kota Bengkulu mendapatkan sertifikat eliminasi malaria karena jumlah kasus malaria di Kota Bengkulu mengalami penurunan yang begitu pesat sejak 2017. Adapun alasan Kota Bengkulu mendapat sertifikat eliminasi malaria adalah Annual Parasite Insiden kurang 1 per 1.000 penduduk, Slide Positivity Rate kurang dari 5 persen, dan tidak ada kasus Indigenous 3 tahun berturut-turut mulai dari tahun 2016. Kasus malaria di Kota Bengkulu merupakan kasus impor dan relaps (kambuh) (Supandi, 2020), sedangkan di kabupaten lainnya di Provinsi Bengkulu belum dapat berhasil melakukan eliminasi sehingga perlu adanya dorongan untuk melakukan kerja sama antar kota/kabupaten dalam program pengendalian vektor agar secara menyeluruh malaria dapat dieliminasi.

Kolaborasi Menuju Bebas Malaria

Pengendalian terpadu baik dalam aspek metode pengendalian, para pihak, dan wilayah administrasi merupakan menjadi syarat mutlak untuk dapat mewujudkan Provinsi Bengkulu bebas malaria. Pengendalian terpadu dapat diimplementasikan antar sektor dan antar wilayah kota/kabupaten sehingga kolaborasi menjadi modal penting untuk membangun sinergitas antar wilayah dan sektor dalam pengembangan program pengendalian malaria. Upaya pengendalian vektor dapat dilakukan dengan beberapa jenis pengendalian yang melibatkan banyak pihak, seperti pemerintah daerah, masyrakat, komunitas, dinas-dinas tertentu, dan lain sebagainya.

Dari sisi pemerintah, pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan mengadakan kemitraan dan kerja sama dengan berbagai pihak guna memonitoring dan mengevaluasi program-program eliminasi malaria yang sudah dilaksanakan serta melakukan edukasi baik terhadap masyarakat umum maupun edukasi dini bagi murid-murid sekolah, seperti sosialisasi tentang bahaya penyakit malaria, habitat, siklus hidup, dan transmisi nyamuk Anopheles sp. Hal ini bertujuan agar masyarakat memahami arti penting menjaga kebersihan lingkungan dan meningkatkan kewaspadaan masyarakat akan bahaya malaria.

Pengendalian malaria juga dapat dilakukan secara biologis dan kimiawi. Secara biologis, pengendalian ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan insektisida berbahan kimia, mencegah terjadinya resistensi nyamuk, dan mengurangi populasi nyamuk penyebab malaria secara alami.

Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan ikan pemakan jentik, seperti ikan gupi (Poecilia reticulata) dan mina padi dengan menggunakan ikan mas (Cyprinus caprio) serta pembuatan biolarvasida dari bahan-bahan alami (Widiarti, Widyastuti, & P., 1991). Lalu, pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan larvaciding menggunakan insektisida, penyemprotan dinding rumah (IRS) dengan insektisida, menggunakan repelant dan obat nyamuk, serta menggunakan kelambu berinsektisida.

Selain itu, untuk mengendalikan penyebaran malaria masyarakat juga diharapkan untuk dapat memanajemen lingkungan dan sanitasi. Hal ini bertujuan untuk mengurangi sumber perkembangbiakan nyamuk Anopheles sp. tindakan yang dapat dilakukan adalah memberantas tempat yang dimungkinkan menjadi sarang nyamuk, menyingkirkan tumbuhan air yang menghalangi aliran air, menimbun lubang-lubang pohon yang dapat menampung air, dan menutup tempat penampungan air.

Oleh karena itu, pengendalian vektor khususnya kasus malaria yang dilakukan secara terpadu dengan melibatkan kerja sama banyak pihak serta penerapan program pengendalian yang sesuai akan berimplikasi terhadap penurunan kasus malaria, khususnya di daerah Provinsi Bengkulu. Jika kebijakan pengendalian ini dilakukan secara tepat dampak yang terjadi adalah penurunan kasus malaria di daerah Bengkulu serta dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat sekitar daerah endemis malaria di Provinsi Bengkulu.

Sarah Mega Pratenna Kaban Fakultas Bioteknologi, Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta

Referensi:

Arsin, A. A. (2012). Malaria di Indonesia; Tinjauan Aspek Epidemiologi. Makassar: Masagena Press.
Kementerian Kesehatan RI. (2016). Info Datin Malaria. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Supandi, H. (2020, Mei 01). Berita. Diambil kembali dari detiknews: https://news.detik.com/berita/d-4999017/kasus-malaria-turun-drastis-kota-bengkulu-terima-sertifikat-eliminasi
Triana, D., Rosana, E., & Anggraini, R. (2017). Pengetahuan dan Sikap terhadap Praktek Pencegahan Malaria di Kelurahan Sukarami Kota Bengkulu. Unnes Journal of Public Health, 107-112.
Widiarti, Widyastuti, U., & P., B. C. (1991). Tinjauan Penelitian Pengendalian Vektor Malaria secara Hayati dan Pengelolaan Lingkungan . Bulletin of Health Research, 33-41.