Hj Riri Damayanti John Latief

PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Pengeboman udara dan artileri oleh pasukan Israel di Gaza beberapa waktu lalu menyisakan banyak duka bagi anak-anak yang tidak bersalah. Sebanyak 67 anak Palestina di bawah 18 tahun tewas dalam belasan hari konflik dengan Israel. Konflik tersebut disebut-sebut sebagai neraka bumi bagi nyawa anak-anak di Gaza.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief pada momen Hari Anak Korban Perang menyatakan keprihatinan yang mendalam atas konflik yang masih bergejolak di berbagai wilayah di dunia yang telah mendorong jatuhnya korban tak bersalah, termasuk anak-anak.

“Saya amati tidak ada data yang pasti berapa sebenarnya jumlah anak-anak yang menjadi korban perang. Tapi yang jelas jumlahnya dilaporkan terus meningkat baik karena kelaparan, kerusakan rumah sakit, minimnya akses pelayanan kesehatan dan sanitasi serta penolakan bantuan,” kata Hj Riri Damayanti John Latief.

Dewan Penasehat DPD Generasi Anti Narkotika Nasional (GANN) Provinsi Bengkulu ini menjelaskan, bukan hanya terancam mati terbunuh atau mengalami cacat seumur hidup, beberapa anak juga dilaporkan dimanfaatkan oleh kelompok bersenjata atau disandera untuk dijadikan sebagai korban kekerasan seksual.

“Indonesia harus berperan lebih aktif meningkatkan perdamaian dunia yang abadi. Sangat mengherankan bagaimana dunia yang teknologinya semakin maju tapi moralitas manusianya bisa semakin jelek sehingga sangat mudah merampas hak hidup anak-anak yang tidak berdosa,” tandas Hj Riri Damayanti John Latief.

Kakak Pembina Duta Generasi Berencana (GenRe) BKKBN Provinsi Bengkulu ini berharap lembaga-lembaga dunia berpartisipasi secara aktif menghentikan bisnis persenjataan yang mempersetankan kedamaian dan kemanusiaan di berbagai belahan dunia.

“Saya percaya dengan pernyataan bahwa ada pihak-pihak tertentu yang ingin ambil untung dari berbagai perang di seluruh belahan dunia. Semua agama yang mengajarkan perdamaian justru oleh orang-orang ini digosok untuk semakin mempertajam konflik,” papar Hj Riri Damayanti John Latief.

Wakil Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Bengkulu ini menambahkan, Indonesia perlu mendorong PBB untuk menggencarkan pembangunan fasilitas kesehatan, pendidikan dan infrastruktur penting lainnya di berbagai wilayang perang dengan sanksi keras dan tegas terhadap pihak-pihak yang merusaknya.

“Berbagai konflik telah membuat jumlah pengungsi terus bertambah. Saya harap momen Hari Anak Korban Perang tahun ini dapat menyatukan tekad seluruh bangsa di dunia bahwa setiap orang atau kelompok yang terbukti menewaskan anak-anak dengan senjatanya pantas dikutuk dan dihukum berat tanpa ampun,” demikian Hj Riri Damayanti.

Tanggal 4 Juni ditetapkan PBB sebagai Hari Anak Korban Perang atau International Day of Innocent Children Victims of Aggression (Hari Internasional Anak-anak Tak Bersalah Korban Agresi) setelah pada sesi khusus darurat tentang masalah Palestina, Majelis Umum PBB yang “terkejut dengan banyaknya anak-anak Palestina dan Lebanon yang tidak bersalah menjadi korban tindakan agresi Israel” pada 19 Agustus 1982.

PBB menyatakan hari ini diperlukan karena kenyataan yang menyedihkan bahwa dalam situasi perang, anggota masyarakat yang paling rentan – yaitu anak-anak, yang paling terdampak oleh konsekuensi perang dalam bentuk perekrutan dan penggunaan anak-anak dalam perang, pembunuhan, kekerasan seksual, penculikan, serangan terhadap sekolah dan rumah sakit, dan penolakan akses kemanusiaan. [Muhammad Qolbi]