PedomanBengkulu.com, Jakarta – Tak selang berapa lama pasca Deklarasi PRIMA, Partai Rakyat Adil Makmur, 1 Juni 2021 di Jakarta, AJ Susmana, aktivis yang selama ini juga dikenal sebagai salah satu Waketum Partai Rakyat Demokratik, PRD, juga mengabarkan sudah menyelesaikan novel yang selama ini ditulisnya hampir kurang lebih lima tahun di sela-sela kesibukkannya sebagai aktivis. Novel yang diberi judul “Menghadang Kubilai Khan” ini memotret usaha persatuan di Nusantara dalam menghadang invasi asing pada abad ke-13.

“Menghadang Kubilai Khan” adalah kisah tentang pembangunan persatuan Nusantara. Orang-Orang dibangunkan dan diberanikan melawan Invasi Asing,” kata AJ Susmana, yang juga dikenal sebagai aktivis Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat, JAKER.

“Nusantara periode abad ke-13, merupakan periode sejarah yang terbaik dalam memberikan pengajaran tentang persatuan dan patriotisme,” jelas AJ Susmana, alumnus Seminari Magelang dan pernah bercita-cita menjadi pastor ini.

AJ Susmana juga menambahkan bahwa keunggulan “Menghadang Kubilai Khan” dibandingkan dengan kisah sejenis adalah upaya persatuan dengan menunjukkan patriotisme Jayakatwang di saat-saat akhir agar Wijaya memperoleh kemenangan untuk kejayaan Nusantara.

“Kubilai Khan di masa kini bisa jadi Xi Jinping, bisa jadi juga Imperialist Amerika Serikat, Modal Asing, Kaum Oligarkis Dunia, yang terus merangsek masuk ke Indonesia menguasai sumber daya manusia dan alamnya, jalur-jalur perdagangannya, berkelindan dan kongkalingkong dengan kaum 1% di Indonesia,” terang AJ Susmana, yang kini juga menjadi salah satu Waketum PRIMA, partai yang mengidentifikasi diri sebagai partainya rakyat biasa atau kaum 99%.

Inspirasi menulis Menghadang Kubilai Khan didapatkan AJ Susmana lima tahun yang lalu. “Saat itu tahun 2016, ketika PRD berulang tahun yang ke-20, aku ditugaskan pimpinan PRD untuk memberikan Orasi Kebudayaan. Karena waktu itu disimpulkan bahwa problem pokok Rakyat Indonesia adalah imperialisme dan PRD sedang berumur 20 tahun, aku menyodorkan tokoh-tokoh muda berumur 20 tahun salah satunya Ken Arok, yang memimpin kebangkitan dan penerusnya: Kertanagara yang berani menolak tunduk pada imperium Kekaisaran Mongol,” kenang AJ Susmana, lelaki kelahiran Klaten, Jawa Tengah 50 tahun yang lalu.

Sejauh catatan kami, AJ Susmana, selain menulis esai sosial budaya dan politik di berbagai media nasional maupun daerah, cetak maupun online juga sudah menulis beberapa buku seperti Perempuan Tangguh, kumpulan cerpen, Kota Ini Ada di Tubuhmu, kumpulan puisi; Zaman Edan, Korupsi, Persatuan. kumpulan esai dan Mengobarkan Kembali Perang Kemerdekaan, sebagai esai-esai untuk Kemandirian Bangsa.

“Menghadang Kubilai Khan” adalah novel pertamanya. ” Ini merupakan jilid pertama dari empat jilid yang direncanakan,” ungkapnya.

“Menghadang Kubilai Khan” sudah bisa didapatkan di Bukalapak dan Tokopedia,” pungkas AJ Susmana. [**]