PedomanBengkulu.com, Lebong – Untuk memaksimalkan posko penyekatan yang ada di depan Makoramil Lebong Atas, warga yang ingin masuk ke Kabupaten Lebong harus melewati pemeriksaan SWAB Antigen. Kendatipun jalan alternatif menuju Desa Pelabai Kecamatan Tubei, selama ini sudah diblokade dengan menebangi pohon. Ternyata masih saja dijebol oleh warga pengguna sepeda motor dari yang ingin keluar masuk arah Kabupaten Bengkulu Utara.

Untuk mengantisipasinya, Rabu (28/07/2021) dipimpin Wakil Bupati Lebong Fahrurrozi bersama jajaran Tim Gugus Tugas membuat blokade jalan dengan coran beton, tujuannya agar setiap warga yang masuk ke Kabupaten Lebong harus melewati Posko pemeriksaan. Namun lagi-lagi, blokade yang dicor beton pun yang sudah dibangun siangnya kambali dijebol warga malam harinya.

“Warga harus lewat posko pemeriksaan dan tidak masuk lewat jalan selain depan posko. Sebelumnya jalan tikus ini sudah diblokade dengan batang pohon, tapi masih dijebol warga. Kalau hanya petani yang pulang ke kebun, mungkin tidak begitu masalah. Yang kita takutkan warga lain yang juga ikut masuk jalan ini, makanya ditutup portal besi dilas dan dudukannya dicor beton,” ungkap Wabup Fahrurrozi ditemui saat ikut membantu pekerjaan pemasangan blokade Rabu (28/07/2021) siang.

Dilanjutkan Fahrurrozi, tujuan dari blokade ini untuk memudahkan Pemkab Lebong melalui tim gugus Covid-19 melakukan pemeriksaan di Posko, dan meminimalisir warga yang terpapar masuk ke Kabupaten Lebong tetapi tidak terdeteksi karena masuk lewat jalur tikus.

“Kita ingin melindungi masyarakat kita dalam usaha penanggulangan Covid-19, jadi tidak ada jalan lain dari Bengkulu Utara ke Kabupaten Lebong selain melalui Posko pemeriksaan SWAB Antigen,” bebernya.

Walaupun Pemkab Lebong sudah berupaya keras, lanjut Fahrurrozi, jika tidak didukung oleh masyarakat. Tentunya usaha dalam memutuskan mata rantai virus Covid-19 di Kabupaten Lebong juga akan menjadi sulit. Terkait masih adanya perusakan blokade jalan, dirinya meminta tim gugus untuk diselidiki. Apakah memang ada upaya sabotase atau lainnya, sehingga blokade tersebut terus dirusak.

“Dukungan masyarakat juga sangat dibutuhkan, dengan tidak menjebol blokade ini, berarti masyarakat juga ikut dalam melindungi keluarga dan masyarakat lainnya,” pungkasnya.[Supriyadi]