PedomanBengkulu.com, Kota Bengkulu – Pandemi Covid-19 masih terus menjadi pembicaraan publik hampir dua tahun terakhir. Mengupas pandemi memang tidak akan ada habis-habisnya. Hal yang paling membuat adiksi adalah mengikuti pemberitaan mengenai pertumbuhan angka korban baik yang terinfeksi, sembuh atau meninggal, lengkap dengan segala mis-informasi yang diterima.

Padahal penyampaian informasi tentang Covid-19 yang bertubi-tubi di masyarakat justru berpeluang membuat mereka sampai ke titik jenuh. Dampaknya tentu saja pada kesehatan mental.

WHO sebagai lembaga kesehatan internasional pun telah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat agar lebih selektif dalam mengkonsumsi informasi mengenai Covid-19.

Ketua DPRD Kota Bengkulu Suprianto yang diwawancara beberapa waktu lalu mengatakan penerapan filsafat stoik yang diperkenalkan oleh Filsuf Yunani Kuno, Epictetus dapat dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kesehatan mental kita di tengah pandemik.

Filsafat stoik sendiri merupakan salah satu cabang filsafat yang mengkaji filsafat kehidupan dengan pendekatan praktis yang bertumpu pada cara berpikir seseorang dalam membuat keputusan yang dilandasi pada trikotomi pengendalian, yaitu sesuatu yag dapat kita kendalikan secara penuh, sesuatu yang dapat kita kendalikan sebagian dan sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan sama sekali.

Suprianto menjelaskan kita memiliki kendali penuh terhadap hal yang kita pikirkan, dan kita punya kendali penuh terhadap nilai yang kita anut.

“Saat ini kan banyak orang yang mengalami ketakutan yang diistilahkan sebagai anticipatory grief atau guncangan psikis. Dan ini menjadi bagian yang tidak bisa kita kendalikan,” jelas Suprianto.

Lalu bagaimana solusi menghilangkan anticipatory grief dari pikiran kita?

“Kuncinya adalah menemukan keseimbangan terhadap apa yang kita pikirkan,” jawabnya.

Karena anticipatory grief memunculkan skenario terburuk dalam pikiran kita, menurut Suprianto kita perlu kembali ke situasi “sekarang”.

“Ya, kita bersyukur kepada Sang Pencipta bahwa sekarang kita tidak sakit, persediaan makanan masih ada dan masih bisa menikmati setiap helaan nafas yang mengalir dalam tubuh kita. Keluarga kita masih baik-baik saja, atau sekalipun sedang sakit, tentu masih ada peluang untuk sembuh. Kuncinya adalah membuang jauh-jauh suatu hal yang tidak dapat kita kendalikan atau kontrol, ” katanya.

Fokus masyarakat adalah menjaga kesehatan, mengurangi interaksi fisik serta berpikir positif tentang situasi. Menurut Suprianto beberapa hal tersebut merupakan penerapan dari filsafat stoik yang dapat dikendalikan secara penuh oleh pikiran kita.

“Fokus terhadap apa yang dapat kita kontrol dengan berpikir optimis namun tetap waspada. Hal ini adalah salah satu solusi terbaik untuk menenangkan dan menyegarkan pikiran kita di tengah-tengah situasi pandemi saat ini,” pungkasnya. [Medi]