Kelik Priyanto, S.Pd

Baru-baru ini Pemerintah melalui Kemendikbud meluncurkan program kebijakan Merdeka Belajar, dengen tujuan agar peserta didik merasa bahagia dalam menempuh pendidikan. Peserta didik diharapkan mempunyai kebebasan dalam menimba ilmu pengetahuan dari berbagai sumber baik dari buku perpustakaan, lingkungan sekitar dan internet, dimana merdeka belajar tidak hanya terbatas pada guru di kelas. Guru tidak lagi menjadi sumber utama belajar namun begitu merdeka belajar masih memerlukan bimbingan dan arahan dari guru.

Diera pandemi seperti sekarang ini, penerapan merdeka belajar seolah menemukan momentumnya. Dimana guru bisa mengarahkan peserta didik untuk bisa belajar menggali informasi dari sumber internet terkait materi yang dipelajari. Masa dimana tidak dibolehkanya pembelajaran tatap muka memaksa guru dan peserta didik untuk berkolaborasi mencari sumber belajar yang sesuai dengan tema yang sedang dipelajari.

Pembelajaran tatap muka lebih sering diganti dengan pembelajaran tatap maya dengan menggunakan media Zoom atau Google Meet, disatu sisi ini bagus karena guru dan peserta didik dilatih untuk menggunakan teknologi, namun disisi lain masih dijumpai siswa yang malas mengikuti pembelajaran daring dengan berbagai alasan, diantaranya keterbatasan kuota, kesulitan jaringan internet dan membantu orang tua di rumah. Tentu hal tadi menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua baik Guru, Orang Tua maupun Pemerintah untuk bisa sama-sama meningkatkan semangat belajar peserta didik menuju Merdeka Belajar yang sesungguhnya.

Untuk mewujudkan pembelajaran tatap maya yang efektif, guru dan orang tua harus bersinergi, jangan sampai semangat belajar peserta didik kian menurun akibat pembelajaran tatap maya dimasa pandemi ini. Akhir-akhir ini dirasakan kencenderungan anak makin malas belajar, kedisiplinan mulai menurun dan anak kecanduan Gawai untuk main game online. Hal ini sangat meresahkan orang tua siswa, terbukti banyak sekali orang tua yang menginginkan agar putra putrinya untuk bisa segera bersekolah lagi (tatap muka).

Ketika kita membicarakan dunia pendidikan dan belajar merdeka, sepertinya kita tidak bisa lepas dari sistem among  ala Tamansiswa. Sistem among melakukan pendekatan secara kekeluargaan, artinya menyatukan kehangatan keluarga dengan sekolah.

Ki Hadjar Dewantara mengatakan bahwa kemerdekaan itu tidak tak terbatas. Kemerdekaan dibatasi oleh tertib damainya masyarakat sehingga kemerdekaan seseorang tidak dibenarkan mengganggu kemerdekaan orang lain.

Kemerdekaan diri mengandung arti kemerdekaan yang bertanggung jawab atas pengendalian diri dan tidak melanggar kemerdekaan orang/golongan lain.

Peserta didik tidak selayaknya mengabaikan proses belajar dengan mengatakan bahwa dia bebas merdeka, tidak seperti itu. Karena kebebasan seperti itu tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Kita harus akui bersama bahwa pendidikan jiwa merdeka dalam sistem among ternyata tidak hanya diperlukan oleh anak-anak di sekolah/bangku kuliah, namun perlu pula adanya pendidikan jiwa merdeka kepada masyarakat luas.

Guru adalah pamong yang selayaknya mampu mendidik dengan system among melalui Tri Logi Kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara yaitu Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Tanpa keteladanan guru di depan (ing ngarso), pro aktif mengikuti dinamika dalam dunia pendidikan dan masyarakat (ing madyo), kemudian menerapkan pembinaan/pengawasan kepada peserta didik (tut wuri), maka pemahaman dan pelaksanaan pendidikan memerdekakan jiwa peserta didik mustahil dapat tercapai. Kalau guru hanya bisa memerintah, tidak bisa memberi tauladan yang baik, hanya mementingkan pribadinya, tidak bisa melakukan pembinaan dan pengawasan, maka fungsi pamong ini menyimpang dari pengertian sistem among.

Pembinaan jiwa merdeka di dunia pendidikan akan memperkokoh wawasan kebangsaan dan memperkokoh jati diri bangsa sehingga dapat berdiri sejajar dengan bangsa lain di dunia. Pembinaan jiwa merdeka bisa dimulai dari lingkup yang paling kecil di dalam keluarga, di sekolah, di lingkungan RT.

Sistem among Tamansiswa ajaran Ki Hadjar Dewantara dapat membimbing menuju tercapainya insan yang merdeka lahir-batin sesuai cita-cita proklamasi 1945.

Penulis: Kelik Priyanto, S.Pd