PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Pandemi Covid-19 tak memukul aktivitas produksi kelapa sawit sebagaimana yang terjadi pada hampir semua sektor bisnis. Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) bahkan merilis industri kelapa sawit yang menyerap 16 juta lapangan kerja mampu menjamin kesejahteraan pekerja di tengah pandemi.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief mengungkapkan, kabar baik tersebut harus dikembangkan lebih lanjut dengan kebijakan yang mendukung ekosistem yang mendukung namun dengan benar-benar memperhatikan aspek sosial dan lingkungan hidup.

“Indonesia adalah pemain besar dunia dalam hal persawitan, tapi produktifitasnya masih rendah, kurang dari 3-4 ton per hektare. Saya dukung semua program pemerintah untuk meningkatkan produktivitas sawit, namun bukan cuma dengan mengejar untung doang, tapi benar-benar dengan jaminan tidak merusak lingkungan hidup,” kata Hj Riri Damayanti John Latief.

Srikandi Himpunan Pengusaha Muda (HIPMI) Provinsi Bengkulu ini menjelaskan, setiap persoalan yang muncul terkait tumpang tindih lahan, degradasi hutan, alih fungsi, hilangnya flora fauna endemik, hilangnya sumber-sumber mata air, krisis air hingga pembalakan liar harus diselesaikan dengan cermat dan seksama.

“Jangan sampai pengelolaan sawit oleh perusahaan-perusahaan sampai menimbulkan konflik di tengah-tengah masyarakat. Apa-apa yang menjadi hak masyarakat harus ditunaikan. Pekerjakan masyarakat dengan adil. Karena jantungnya pembangunan adalah kesejahteraan masyarakat, bukan kebijakan yang menyengsarakan,” tandas Hj Riri Damayanti John Latief.

Wakil Bendahara III Ikatan Keluarga Seluma, Manna, Kaur (SEMAKU) ini menyatakan rasa syukurnya atas kenaikan harga pembelian TBS kelapa sawit di sejumlah daerah di tengah Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang terjadi saat ini.

“Mudah-mudahan harganya naik terus sehingga petani bisa senang karena kesejahteraannya meningkat dan juga harapan saya di sektor-sektor lain bisa seperti sawit. Kebal corona. Sehingga menekan kemiskinan dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja,” demikian Hj Riri Damayanti John Latief.

Berdasarkan data yang dirilis KPCPEN, produksi sawit RI menguasai pasar internasional, bahkan mencapai 55 persen pasar dunia dan berkontribusi terhadap perekonomian nasional, yakni berkontribusi 3,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Tak hanya itu, sawit juga menjadi kontributor terbesar pada total ekspor non migas 13 persen dengan memanfaatkan tidak lebih dari 10 persen total global land bank untuk minyak nabati dan berkontribusi 16 juta dengan multiplier effect besar. [Muhammad Qolbi]