Hj Riri Damayanti John Latief

PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Sepinya minat sekolah di masa pandemi covid-19 yang disinyalir dipicu oleh pembelajaran jarak jauh dan rusaknya ekonomi rumah tangga menghantui berbagai daerah termasuk di Bengkulu dimana sejumlah sekolah terancam tutup karena jumlah murid yang terus berkurang.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief mengaku khawatir dengan perkembangan tersebut dan akan munculnya lost generation di tengah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro.

“Di desa-desa di Bengkulu kesenjangan antara pelajar yang punya akses ke teknologi internet dengan yang nggak punya jadi masalah serius. Apalagi buat warga miskin. Di Bengkulu saya kira kombinasi pembelajaran metode daring dan tatap muka merupakan kebijakan terbaik,” kata Hj Riri Damayanti John Latief, Selasa (13/7/2021).

Kakak Pembina Duta Generasi Berencana (GenRe) BKKBN Provinsi Bengkulu ini mengungkapkan, selain angka putus sekolah, masih adanya kualitas dan fasilitas sekolah yang kurang memadai di desa-desa seperti di Desa Kota Niur membuat permasalahan pendidikan di Bumi Rafflesia semakin kompleks.

“Bagaimana mau mencetak generasi masa depan yang tangguh kalau upaya untuk mewujudkan pendidikan yang merata dan berkualitas belum menemukan bentuk yang ideal. Saya minta kementerian terkait terus berinovasi dan mencari terobosan-terobosan untuk dikembangkan guna memajukan pendidikan,” harap Hj Riri Damayanti John Latief.

Alumni Psikologi dari Universitas Indonesia ini menekankan pentingnya pencegahan candu game online yang merebak seiring kebijakan belajar daring yang menuntut setiap pelajar diharuskan belajar menggunakan handphone sebagaimana yang banyak dikeluhkan orang tua kepadanya.

“Orang tua kalau sayang sama anak, awasi anaknya jangan semua kemauannya dituruti tapi nggak panjang mikirnya bagaimana dampaknya kedepan. Sudah banyak ahli yang menyebutkan game online kalau dimainkan terus menerus bisa merusak perilaku dan kesehatan fisik anak,” ujar Hj Riri Damayanti John Latief.

Dewan Penasehat DPD Generasi Anti Narkotika Nasional (GANN) Provinsi Bengkulu ini menambahkan, merupakan sebuah kewajaran ketika semakin banyak pelajar dan mahasiswa yang jenuh dan bosan dengan proses pembelajaran jarak jauh serta merindukan masa-masa bergumul bersama teman-teman sekolah

“Dan belum ada yang tahu secara pasti kapan pandemi covid-19 ini akan berakhir. Malah jumlahnya setiap hari terus bertambah. Tapi ini pilihan sulit, sekolah yang sudah mulai menggelar tatap muka jangan lupa protokol kesehatan yang ketat,” demikian Hj Riri Damayanti John Latief.

Untuk diketahui, berdasarkan catatan Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan sepanjang 2020 terdapat 119 kasus putus sekolah dan 21 di antaranya karena menunggak SPP.

Catatan KPAI sepanjang Januari-Maret 2021, 33 anak putus sekolah karena menikah yang disinyalir juga karena alasan ekonomi, 12 anak putus sekolah karena menunggak SPP, 2 anak putus sekolah karena harus bekerja, dan 2 anak putus sekolah karena harus menjalani rehabilitasi akibat kecanduan gawai. [Muhammad Qolbi]