Ahmad Walid, Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Universitas Bengkulu

Pada abad ke-21, orang harus memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi yang disebut keterampilan belajar abad ke-21 untuk memecahkan masalah baru di dunia baru. Mereka harus tahu bagaimana menggunakan pengetahuan dan keterampilan mereka. Keterampilan dan pengetahuan itulah yang nanti akan dipakai untuk memecahkan persoalan dalam pembelajaran dan pasca pembelajaran sehingga bisa digunakan secara maksimum. Secara eksistensial, persoalan pendidikan dan manusia bagaikan hubungan antara jiwa dan raga manusia. Jika jiwa berpotensi menggerakan raga manusia, maka kehidupan manusia pun digerakan oleh pendidikan ke arah pencapaian tujuan akhir.

Pendidikan, sebagai salah satu dari serangkaian persoalan yang melekat secara kodrati di dalam kehidupan manusia dapat dianalisis secara sistematis, integral, menyeluruh, mendasar dan objektif melalui kajian filsafat. Sebagaimana dikemukakan seorang filsuf dari Amerika, John Dewey (1993) filsafat itu merupakan teori umum dari pendidikan, atau filsafat merupakan landasan dari semua pemikiran mengenai pendidikan. Persoalan manusia yang berkaitan dengan bidang pendidikan itu sendiri sebenarnya masih merupakan suatu hamparan yang sangat luas. Apalagi pada era transformasi glabalisasi pada dekade terakhir ini, persoalan pendidikan semakin kompleks dan rumit.

Konsep pendidikan dalam arti luas sebagaimana dijelaskan Soegarda Poerwakawatja sebagai perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuan, pengalaman, kecakapan dan keterampilannya kepada generasi muda agar dapat memahami fungsi hidupnya baik jasmani maupun rohani. Upaya ini dimaksudkan untuk meningkatkan kedewasaan dan kemampuan anak untuk memikul tanggung jawab moral dari segala perbuatannya. Proses pendidikan adalah proses perkembangan yang bertujuan. Tujuan dari proses pekembangan tersebut secara alamiah adalah kedewasaan, kematangan dari kepribadian manusia. Dalam upaya mencapai tujuannya secara efektif dan efisien, pendidikan membutuhkan fungsi manajemen. Suharsimi Arikunto (2008) menjelaskan manajemen pendidikan adalah serangkaian kegiatan yang berupa proses pengelolaan usaha kerjasama sekelompok manusia yang bergabung dalam organisasi pendidikan, untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya, agar efektif dan efisien.

Dalam merangkai menejemen pendidikan kita tidak mungkin tidak melibatkan suatu nama yang disebut guru. Guru yang dimaksud adalah seorang yeng memberikan dan melakukan proses transfer pengetahuan kepada peserta didik. Sehingga apa saja ilmu yang dipunyai kemudian disampaikan sehingga bisa berguna untuk melengkapi kecakapan hidup dan bekal untuk menjalani hidup pada kesempatan ini akan disajikan hakitat dari seorang guru dalam pandangan ontologi, epistimologi dan aksiologi. Permasalahan pendidikan secara mikro pun terjadi pada pemahaman dan cara pandang bahwa guru adalah sumber pengetahuan mutlak. Pada keadaan ini, guru ialah seorang indroktrinator yang terus membelenggu pikiran-pikiran anak sebagai manusia. Hal ini berdampak pada rendahnya cara berpikir kritis siswa, sehingga di masa depan mereka hanya  akan menjadi manusia yang mudah diprovokasi dan di adu domba oleh pihak (insider/ outsider) yang memiliki kepentingan, Hal ini ditakutkan akan berdampak pula pada runtuhnya nilai kolektivitas bangsa indonesia dan berdampak secara akut pada lahirnya manusia-manusia yang retak dalam etik dan hilangnya kepekaan sosial.

Dengan demikian, itu artinya bangsa Indonesia adalah bangsa yang kehilangan kearifan dan identitas dirinya sebagai bangsa yang beradab. Bahkan kondisi ini seakan menjadi sebuah tuntutan mitos yang perlu adanya sebuah pencerahan. Sudah saatnya kita melakukan sebuah kritisisme terhadap hal tersebut yang jelas akan menghambat pembebasan manusia atas dirinya. Jika keadaan ini terus dibiarkan maka pendidikan hanya akan melahirkan manusia palsu dimana setiap orang tidak berguna dan tertipu. Pedidikan seperti ini tak lain adalah sebuah proses pemancungan, kekejaman, kekerasan, penindasan, pemerkosaan, ketidakadilan, dan tirani. Hal tersebut cukup merepresentasikan adanya upaya pengingkaran terhadap pemikiran dan menghindari adanya peradaban, dengan demikian, pendidikan seperti itu merupakan pendidikan yang bersifat destruktif. Namun demikian kondisi ini saat ini seakan menjadi hal yang diagungkan, sehingga dalam keadaan ini pendidikan hakikatnya adalah “sadistik”. Oleh sebab itu, pendidikan perlu berorientasi pada upaya untuk membangun kemampuan berpikir kritis. Hal ini sejalan dengan pendapat Risakotta  yang mengungkapkan bahwa pendidikan sebaiknya membangun sikap kritis yang bertanggung jawab, bukan kritis yang dogmatis-ideologis.

Berdasarkan hal tersebut sudah sepatutnya kita membukakan mata hati dan pikiran kita untuk berpikir bahwa pendidikan merupakan sebuah proses yang mulia dan maha agung, dan tidak lepas atau kabur dari esensi sebagaimana mestinya. Berdasarkan hal di atas, tidak cukup hanya dengan retorika, harus ada yang dijadikan patokan untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara yang lebih bermartabat. Hal ini dilakukan dengan membangun mentalitas bangsa indonesia yang kuat dan berkarakter melalui sebuah revitalisasi dan reorientasi pendidikan yang diarahkan untuk memanusiakan manusia secara utuh. Pendidikan hendaknya diorientasikan pada hal-hal yang bercorak materialistis, dan teknokratis, kering dari sentuhan nilai moral, kemanusiaan, dan kemuliaan budi. Pendidikan perlu dikembangkan dari struktur fundamental filosofis yang relevan dengan ideologi bangsa Indonesia yakni pancasila yang merupakan sebuah harmonisasi nilainilai kebudayaan bangsa Indonesia yang tentu bersifat dialektis, dan terbuka sehingga hal ini akan memberi implikasi pada lahirnya manusia-manusia Indonesia yang memiliki identitas diri, namun memahami eksistensinya sebagai warga masyarakat dunia.

Sebaliknya, pendidikan yang tidak didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan tersebut, telah mengkhianati tujuan pendidikan yang dicita-citakan dan hanya akan melahirkan manusia-manusia anomali. Pemahaman pendidikan yang didasarkan pada kebudayaan ditegaskan oleh Dewantara, (1977) yang mengungkapkan bahwa “kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari pendidikan bahkan kebudayaan merupakan alas atau dasar pendidikan”, karena sifat kebudayaan yaitu kehalusan, keluhuran dan memajukan adab perkemanusiaan. Namun demikian pemahaman kebudayaan tidaklah dimaknai sebagai suatu hal yang bersifat statis, melainkan sebagai sesuatu yang dinamis. Dengan kata lain, bahwa kebudayaan bukanlah merupakan sebuah entitas yang statis melainkan dinamis bergantung pada kreativitas masyarakat yang berbudaya. Pendidikan harus mampu menjadikan manusia sebagai mahluk berpikir dari pada apa yang mereka pikirkan. Oleh sebab itu, pemahaman ini akan menjadi unsur dasar untuk lebih mengembangkan akal budi manusia secara radikal, kritis dan konstruktif dalam mencapai kehidupan yang lebih humanis dan masyarakat yang lebih baik. Hal ini diharapkan akan berakhir pada sebuah pemahaman yang lebih, terhadap eksistensi manusia yang mencakup hakikat siapakah manusia dan apa yang dapat dan harus mereka lakukan. Sehingga hal ini akan berimplikasi pada lahirnya pendidikan dalam makna sejati yang mampu menyuguhkan konsep kehidupan yang berbasis pada nilai-nilai humanitas, toleransi, keadilan, cinta dan kasih sayang, demokrasi, kesetaraan, hak asasi manusia, kemaslahatan umum, pelestarian lingkungan hidup, dan isu-isu kontemporer lainnya dalam kehidupan masyarakat global yang plural dan multikultural dalam bingkai kehidupan yang hamonis, bermutu dan bermartabat. Demikianlah sejatinya pendidikan dibangun di atas nilai-nilai humanitas dan di dalam dimensi-dimensi dan ruang kehidupan yang penuh keberadaban.

Hakikat Guru  Analisis Ontologi

Ontologi sebagai ilmu pengetahuan membicarakan sesuatu seakar-akarnya, atau mempelajari esensi ilmu. Pada prinsipnya ontologi membahas apa yang ada, hal ini mencakup terhadap apa nampak dan apa yang tidak Nampak/metafisis. Metasika termasuk bagian dari ilmu filsafat, karena membicarakan hakikat sesuatu, dan berhubungan dengan ilmu ketuhanan (tauhid), yaitu kepercayaan kepada Tuhan menciptakan segalanya. Dalam unsur pendidikan terdapat pendidik (guru) yang merupakan elemen penting dalam bidang pendidikan. Ontologi adalah bagian metafisika yang mempersoalkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan segala sesuatu yang ada. Pendidik ditinjau dari segi ontology merupakan hal yang bersifat riil karena pendidik merupakan komponen penting dalam pendidikan terutama dalam proses belajar mengajar.Pendidik dapat diartikan sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan siswa dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi siswa,baik potensi kognitif,afektif dan psikomotorik.Pendidik juga berarti orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan pertolongan pada siswa dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai tingkat kedewasaan.Dalam pendidikan guru mempunyai banyak fungsi beberapa diantaranya adalah Guru sebagai manager dimana guru adalah pengelola dalam kegiatan belajar mengajar yang merupakan suatu keharusan agar sistema pembelajaran di dalam kelas teratur dan terarah sesuai dengan apa yang diharapkan, Guru sebagai observer Kemampuan guru untuk mengawasi peserta didik dalam proses pembelajaran sangat diharapkan agar terjadinya proses pembelajaran salig terawasi dan mengawasi, Guru sebagai diagnostician, guru juga diaharapakan bisa menganalisis kelebihan dan kekurangan peserta didik agar bisa mengetahui proses penyerapan pembelajaran sehingga guru bisa memetakan kemampuan siswa. Guru sebagai educator

Guru juga harus bisa bisa menjadi seorang  pendidik dalam kondisi apapun sehingga akan terjadi keselarasan dalam proses pembelajaran. Diatas merupakan sebagian dari peran seorang guru dan hakikat seorang guru ditinjau dari sisi ontologi dimana guru akan terasa ilmunya apabila ada keikhlasan yang menjadi unsur utama dalam rangka mengamalkan keilmuannya dan berharap pahala dari sang pencipta. Guru mengevaluasi, menilai, mencatat kemampuan, pencapaian dan kemajuan siswa. Guru hendaknya menjadi seorang evaluator yang baik, kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai atau belum, dan apakah materi yang diajarkan sudah cukup tepat. Semua pertanyaan tersebut akan dapat dijawab melalui kegiatan evaluasi atau penilaian.

Hakikat Guru  Analisis Epistimologi

Runes dalam kamusnya yang dikutip oleh Ali Anwar dan Tono “epistemology is the branch of philosophy which investigates the origin, structure, methods, and validity of knowledge”. Sedangkan dalam Kaelan, epistemologi adalah salah satu cabang berari pengetahuan atau ilmu pengetahuan. Epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas mengenai ilmu pengetahuan yang meliputi berbagai ruang lingkup meliputi sumber-sumber, watak dan kebenaran manusia. Pembahasan berikutnya mengenai pengetahuan manusia, sebagai mana dijelaskan di awal bahwasanya masalah epistemologi harus diletakkan dalam kerangka bangunan filsafat manusia. Hal ini lebih mengarah kepada hakikat manusia yang terdiri dari beberapa unsur, di antaranya adalah mengenai ilmu pengetahuan. Maka berbicara tentang hakikat manusia dalam kerangka ini maka mau tidak mau harus berbicara tentang upaya manusia memperoleh ilmu pengetahuan.

Dalam hal ini Ahamad Tafsir sependapat bahwa epistemologi membicarakan sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperolehnya. Dan bagi Ahmad Tafsir, tatkala manusia baru lahir, manusia tidak memiliki pengetahuan apa pun.  Akan tetapi berbeda dengan pandangan Plato mengenai hal ini, bagi Plato bahwasanya manusia itu telah memperoleh pengetahuannya sejak dia dilahirkan, atau lebih tepatnya di sebut dengan innate idea atau ide bawaan. Dalam hal ini, pengetahuan manusia dapat di kelompokkan ke dalam tiga macam, yaitu pengetahuan sains, pengetahuan filsafat, dan pengetahuan mistik. Pengetahuan manusia itu diperoleh dengan berbagai cara dan alat untuk memperolehnya. Adapun aliran yang berbicara tentang masalah ini atau masalah cara memperoleh pengetahuan adalah aliran empirisme, rasionalisme, positivisme, dan intuisionisme. Dari semua jenis pengetahuan di atas maka dalam ranah inilah epistemologi sebagai suatu alat untuk mengukur kebenaran tersebut. Di dalam epistemologi dibicarakan tentang sumber pengetahuan dan sistematikanya, di samping itu pula epistemologi hadir guna memperbincangkan tentang hakikat ketepatan susunan berpikir yang secara akut pula digunakan untuk masalah-masalah yang memiliki korelasi dengan maksud untuk menemukan kebenaran isi sebuah pertanyaan. Sedangkan isi pertanyaan itu adalah sesuatu yang ingin diketahui. Oleh karena itu, epistemologi relevan dengan ilmu pengetahuan yang disebut dengan filsafat ilmu. Oleh karena epistemologi dalam hal ini adalah mencoba mempertanyakan tentang pengetahuan, maka juga harus mengenal tentang pengetahuan itu sendiri. Dalam hal ini kebenaran pengetahuan dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu kebenaran mutlak atau absolut dan kebenaran relatif atau nisbi. Kebenaran absolut adalah kebenaran yang abadi tidak berubah-ubah dan tidak bisa dipengaruhi oleh yang lain (kebenaran tentang adanya Tuhan). Sedangkan kebenaran nisbi, adalah kebenaran yang dapat berubah-ubah (misalkan seperti penglihatan) akan dipengaruhi oleh keadaan yang dilihatnya. Peran filsafat pendidikan bagi guru, dengan filsafat metafisika guru mengetahui hakekat manusia, khususnya anak sehingga tahu bagaimana cara memperlakukannya dan berguna untuk mengetahui tujuan pendidikan.

Dengan filsafat epistemologi guru mengetahui apa yang harus diberikan kepada siswa, bagaimana cara memperoleh pengetahuan, dan bagaimana cara menyampaikan pengetahuan tersebut. Dengan filsafat aksiologi guru memehami yang harus diperoleh siswa tidak hanya kuantitas pendidikan tetapi juga kualitas kehidupan karena pengetahuan tersebut. Yang menentukan filsafat pendidikan seorang guru adalah seperangkat keyakinan yang dimiliki dan berhubungan kuat dengan perilaku guru, yaitu: Keyakinan mengenai pengajaran dan pembelajaran, siswa, pengetahuan, dan apa yang perlu diketahui.

Hakikat Guru  Analisis Aksiologi

Aksiologi berasal dari bahasa Yunani-axios (nilai atau nilai) dan logos (studi atau teori) berarti teorinilai-nilai. Aksiologi adalah ilmu tentang nilai-nilai kemanusiaan, memungkinkan kita untuk mengidentifikasi sistem penilaian internal itu memengaruhi persepsi, keputusan, dan tindakan kita-untuk memahami dengan jelas ‘mengapa’ kita melakukan apa yang kita lakukan! Aksiologi adalah ciri atau kualitas yang dianggap berharga, mereka mewakili prioritas tertinggi dan dalam individu diadakan kekuatan pendorong. Aksiologi memiliki 2 cabang utama, Etika dan Estetika. Etika adalah studi tentang nilai dan perilaku moral. Sedangkan Estetika berkaitan dengan aspek teoritis

Seni Kompetensi aksiologis guru adalah pengembangan dalam arti pendidikan untuk ‘menjadi’. Itu prihatin dengan perkembangan kepribadian total individu intelektual, sosial, emosional, estetika, moral dan spiritual. Ini melibatkan pengembangan kepekaan terhadap yang baik, yang benar dan yang indah, kemampuan untuk memilih yang benar nilai-nilai yang sesuai dengan cita-cita tertinggi dalam hidup dan menginternalisasi serta mewujudkannya dalam pemikiran dan Tindakan Akhirnya kompetensi aksiologis adalah cakrawala dari manifestasi kreativitas manusia. Secara konvensional dianggap bahwa kompetensi aksiologis harus dilakukan atas dasar komitmen pribadi yang kuat, tetapi kami mendukung proposal pelatihan sadar tentang nilai untuk dipromosikan pemahaman antar budaya. Dengan kata lain, ‘nilai mendidik’ berarti mengembangkan pemikiran kritis rasional, mendidik emosi, untuk mengembangkan imajinasi, untuk memperkuat kemauan dan untuk melatih karakter pelajar. Tujuannya adalah untuk menyalakan kepekaan moral dan estetika peserta didik, untuk meningkatkan tingkat kesadaran nilai mereka, untuk merangsang mereka untuk berpikir secara bebas dan kritis, untuk mengembangkan kemampuan untuk menilai tindakan dan peristiwa secara rasional, dan untuk memilih dan bertindak dengan berani dan dengan keyakinan demi kebaikan sosial yang lebih besar.

Oleh karena itu, guru harus melakukannya dilatih untuk berfungsi sebagai agen yang menstimulasi, memprovokasi, menginformasikan, dan membuat sensitif peserta didik dengan referensi menghargai situasi dalam hidup. Harusnya guru bisa melakukann pengajaran dengan memproyeksikan sistem nilai mengajukan tujuan pendidikan, dalam bentuk aksiologis tujuan dan cita-cita. Kompetensi aksiologis menentukan nilai-nilai umum / universal dan spesifik di lingkungan masyarakat yang membentuk kepribadian manusia yang seimbang. Kinerja nilai membutuhkan pengetahuan dan pengalaman, yang berarti keterlibatan tiga rencana yang saling terkait-kognitif, afektif dan ko-native. Tidak memihak

Kepribadian Murid-Guru melestarikan dan mentransmisikan nilai-nilai yang menjamin identitas budaya manusia komunitas yang dimaksud untuk memelihara norma-norma spiritual, intelektual, dan sosial kemanusiaan.

Etika dan norma sosial pemuja selalu membangun teladan moral dan ideal yang baru. Ini mewakili calon guru sebagai panutan dalam masyarakat. Akhirnya guru yang penuh harapan menjadi guru yang efektif. Guru dengan demikian dapat dilihat sebagai salah satu dari tokoh terpenting bagi pendatang baru pra-dewasa dalam masyarakat baru. Peran guru tentu menyiratkan kekuatan untuk memengaruhi siswa, dan karena nilai-nilai melekat dalam pengajaran, tampaknya tidak mungkin siswa akan demikian mampu menghindari pengaruh nilai-nilai guru seutuhnya, oleh karena itu kompetensi aksiologis senantiasa memperkuat program pelatihan guru dan mempersiapkan guru yang efisien .

SIMPULAN

Dengan demikian hakikat kita memahami menjadi seorang guru baik itu prilaku, proses ataupun output yang dihasilkan akan dapat memberikan kita dan memandan peran seoarang guru bukan hanya tentang transfer keilmuan akan tetapi lebih kepada transfer  hal hal lain berkaitan tentang etika, moral sehingga menjadi budaya yang nantinya akan mengubah prilaku dalam bungkus akhlakul karimah. Sehingga kedepan peran mulyanya seorang guru bukan pada kualitas keilmuan akan tetapi juga pada pengolahan rasa, sikap dan etika sehingga bisa dijadikan suri tauladan yang baik bagi dunia pendidikan. Dengan demikan selaraslah apa yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara Ing ngarso sung tuladha, ing madya membangun, tut wuri handayani. Artinya ‘di depan memberi contoh, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan’ dengan tujuan pendidikan saat ini.

Penulis: Ahmad Walid, Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Universitas Bengkulu