Hj Riri Damayanti John Latief

PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Sebagai produk utama kebudayaan, bahasa daerah dilaporkan kian terpinggirkan. Hal ini sesuai data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menyebutkan bahwa berdasarkan hasil penelitian gaya hidup (vitalitas) saat ini, ada 11 bahasa daerah yang terancam punah, termasuk diantaranya bahasa daerah Rejang dan Enggano.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Hj Riri Damayanti John Latief menuturkan, bahasa sebagai jati diri sebuah daerah yang menggambarkan ciri-ciri, gambaran, identitas, inti, jiwa, spirit, atau daya gerak sebuah bangsa, patut disayangkan bila sampai punah.

“Sebagai salah satu negara yang memiliki jumlah bahasa daerah terbesar di dunia, patut disayangkan kalau sampai ada yang punah. Apalagi bahasa Rejang dan Enggano yang terancam punah itu milik Bengkulu. Karena baru terancam, belum punah sepenuhnya, menurut saya ini harus disikapi,” kata Hj Riri Damayanti John Latief, Senin (23/8/2021).

Kakak Pembina Duta Generasi Berencana (GenRe) BKKBN Provinsi Bengkulu ini menjelaskan, hilangnya penggunaan bahasa daerah sebenarnya sudah mulai tampak dari mulai jarangnya penggunaannya di kalangan generasi milenial.

“Bahasa daerah ini penting bukan cuma untuk mengungkapkan jati diri daerah tersebut, tapi juga buat menggali penutur bahasa dan kebudayaan daerah. Bahasa daerah selama ini punya kontribusi untuk mempemerkaya kosakata bahasa Indonesia,” ungkap Hj Riri Damayanti John Latief.

Wakil Bendahara III Ikatan Keluarga Seluma, Manna, Kaur (SEMAKU) ini berharap pihak-pihak terkait dapat mengidentifikasi langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga agar bahasa-bahasa daerah yang ada di Bengkulu tidak sampai punah.

“Saya tidak akan sungkan untuk bekerjasama dalam upaya kembali menghidupkan bahasa daerah ini. Dan melalui momen ini saya mengajak setiap keluarga di Bengkulu bisa kembali menggunakan bahasa daerah di lingkungan keluarga masing-masing,” harap Hj Riri Damayanti John Latief.

Alumni SMA Negeri 6 Kota Bengkulu ini menambahkan, kalangan milenial Bengkulu tidak perlu gengsi untuk menggunakan bahasa daerahnya apalagi sampai mengejek penggunanya dengan kata-kata orang dusun, tidak intelek, tidak gaul, kuno, atau kampungan.

“Bahasa Indonesia harus dipahami dengan sempurna dan bahasa asing pun juga harus dikuasai. Tapi bahasa daerah jangan dibiarkan punah. Generasi kini harus mampu menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia punya banyak bahasa daerah yang mencerminkan keramahtamahan dan kehidupan spiritual yang hebat,” demikian Hj Riri Damayanti John Latief.

Data terhimpun, berdasarkan catatan UNESCO, ada 12 bahasa daerah di Indonesia yang telah punah yakni Hukumina, Kayeli, Liliali, Mapia, Moksela, Naka’ela, Nila, Palumata, Piru, Tandia, Te’un dan Tobada’.

Jumlah tersebut diperkirakan jauh lebih sedikit dari angka yang sebenarnya karena ada banyak bahasa daerah yang tidak terpublikasi secara keseluruhan.

Bahkan lebih mengkhawatirkan lagi, disebutkan tak kurang ada 47 bahasa daerah di Indonesia yang terancam punah dengan jumlah penutur hanya tersisa 1-100 orang.

Bahasa Longiku di Kalimantan misalnya, diketahui hanya memiliki 4 penutur di tahun 2000. Pada tahun yang sama bahasa Lom di Sumatera hanya menyisakan 10 orang penutur. Bahasa Budong-Budong hanya tinggal dituturkan oleh 50 orang di Sulawesi. [Muhammad Qolbi]