PedomanBengkulu.com, Bengkulu – Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Bengkulu melaksanakan Sosialisasi Kebijakan Pengembangan Sekolah Ramah Anak di tingkat SD, SMP hingga SMA/SMK di Kota Bengkulu, Rabu (1/9).

Kegiatan yang dilaksanakan secara virtual melalui akun Zoom Cloud Meeting ini diikuti oleh 161 sekolah, yang terdiri dari 104 SD, 37 SMP dan 20 SMA/SMK di Kota Bengkulu dan dibuka secara resmi oleh Dekan Fisip Universitas Bengkulu (UNIB), Dr. Yuni Silia M.Si.

Koordinator Pelaksana Kegiatan, Ika Pasca Himawati, M.A. menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh para peserta yang telah meluangkan waktu untuk hadir, serta apresiasi juga disampaikan kepada tim pelaksana kegiatan yang telah berupaya secara maksimal sehingga acara sosialisasi ini dapat terlaksana.

“Kegiatan ini merupakan bentuk pengabdian masyarakat berbasis riset tahun 2021 yang dilakukan oleh tim dosen dan mahasiswa dari jurusan sosiologi Fakultas Fisip Universitas Bengkulu. Kegiatan ini bertujuan untuk mensosialisasikan kebijakan pengembangan Sekolah Ramah Anak di Kota Bengkulu. Hal ini juga sebagai upaya mendukung implementasi kota layak anak,” tutur Ika.

Nantinya, lanjut Ika, kegiatan ini akan berlanjut ke tingkat pendamping terhadap sekolah yang telah memenuhi kriteria serta bersedia mengikuti rangkaian pendampingan yang diselenggarakan oleh tim pengabdian kepada masyarakat berbasis riset.

“Narasumber dalam kegiatan ini merupakan fasilitator nasional dalam pengembangan kota layak anak,” imbuhnya.

Ika juga menyampaikan harapannya agar para peserta yang hadir dapat menyimak dan aktif dalam menerima sosialisasi dari para narasumber, sehingga penerapan kebijakan Sekolah Ramah Anak ditingkat SD, SMP hingga SMA maupun di tingkat SMK dapat terlaksana dengan baik.

Di kesempatan yang sama, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bengkulu, Beni Rasdiwansyah mengatakan, anak adalah merupakan aset dan potensi generasi penerus bangsa dan sumber daya manusia yang sangat menentukan keberhasilan pembangunan di masa depan nantinya.

“Mengingat hal tersebut, sangat diperlukannya perlindungan dalam menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik. Bahkan, hal ini tertuang dalam UUD 1945 Pasal 28 serta UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang hak anak,” ujar Beni Rasdiwansyah.

Sementara Itu, Narasumber pertama dalam sosialisasi ini menyampaikan Prinsip Sekolah Ramah Anak adalah Sekolah Yang Non Diskriminasi Bagi Anak, tidak membeda-bedakan anak yang satu dengan lainnya, tidak ada kekerasan dan tidak ada bully atau saling mengolok-olok.

Jika komponen SRA terpenuhi, maka hasil yang diharapkan dari terlaksananya SRA ini bisa kita rasakan.

“Hasil yang diharapkan dari terlaksananya SRA tentu saja adalah terwujudnya sekolah yang aman dan menyenangkan bagi peserta didik karena bebas dari kekerasan antar peserta didik maupun kekerasan yang dilakukan oleh pendidik dan tenaga kependidikan, terbentuknya perilaku pendidik dan tenaga kependudukan yang berprespektif anak, penerapan disiplin positif yang membantu anak untuk berpikir dan bertindak benar dan meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran,” papar Tris Diani Fajar.

Kemudian narasumber kedua, Meri Yumiati juga menjelaskan salah satu hal yang sangat perlu diperhatikan adalah bidang pendidikan anak, sebab pendidikan anak merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang efektif dan efisien sehingga anak dapat secara aktif mengembangkan potensi dirinya.

“Selain dari lingkungan keluarga, hal yang perlu kita perhatian dalam tumbuh kembang dan pemenuhan hak adalah di bidang pendidikan anak, dan hal itu pasti didapatkan dari lingkungan sekolahnya masing-masing jadi Sekolah Ramah Anak ini sangatlah penting untuk menjaga melindungi anak selama waktu menuntut ilmu di sekolah,” ujarnya. [Kucir.06]